Tradisi dan Budaya di Jatim

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi, Simbol Syukur dan Kebersamaan Suku Osing

Tumpeng Sewu di Banyuwangi hadirkan ribuan tumpeng, doa, dan kebersamaan. Tradisi Suku Osing ini sarat makna syukur dan kearifan lokal.

Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Haorrahman
TRADISI TUMPENG SEWU BANYUWANGI - Tumpeng Sewu adalah salah satu tradisi turun temurun Suku Osing di Banyuwangi. Tumpeng Sewu digelar seminggu menjelang Hari Raya Idul Adha. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi Tumpeng Sewu merupakan ritual turun-temurun Suku Osing di Desa Kemiren yang digelar jelang Idul Adha sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan.
  • Rangkaian acara meliputi mepe kasur, Mocoan Lontar Yusup, hingga arak barong dan makan bersama ribuan tumpeng pecel pithik di bawah cahaya obor.
  • Selain sarat nilai spiritual dan filosofi, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya, bahkan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2014.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Tumpeng Sewu menjadi salah satu warisan budaya khas Banyuwangi yang terus lestari hingga kini. 

Ritual adat masyarakat Suku Osing ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga menggambarkan kuatnya nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi Turun-Temurun Suku Osing di Desa Kemiren

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, Tumpeng Sewu merupakan ritual adat masyarakat Suku Osing yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun sebagai warisan leluhur yang masih dijaga hingga sekarang.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Tumpeng Sewu dilaksanakan setiap tahun, tepatnya seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha. 

Ritual ini menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan keselamatan yang diberikan kepada masyarakat.

Dikutip dari kominfo.jatimprov.go.id, dalam pelaksanaannya, warga menyiapkan ribuan tumpeng yang disusun rapi di sepanjang jalan desa.

Jalan utama pun ditutup sejak sore hari agar prosesi adat dapat berlangsung dengan khidmat

Tak hanya warga lokal, tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan. Banyak pengunjung yang datang untuk merasakan langsung suasana kebersamaan dalam ritual adat yang sarat makna tersebut.

Baca juga: Tradisi Baritan, Ritual Sakral Tolak Bala Khas Pacitan di Bulan Suro

Makna Spiritual dan Filosofi Tumpeng Sewu

Dilansir dari kemiren.com, Tumpeng Sewu merupakan bentuk selametan kampung yang bertujuan untuk memohon perlindungan, kesehatan, serta keberkahan hidup. 

Ritual ini juga diyakini sebagai upaya tolak bala dari berbagai penyakit dan bencana.

Sebagaimana disebutkan dalam sumber, setiap rumah warga minimal menyajikan satu tumpeng yang berisi nasi berbentuk kerucut lengkap dengan lauk khas, terutama pecel pithik. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved