Tradisi dan Budaya di Jatim
Siraman Kiai Bonto di Blitar, Tradisi Pusaka Keramat yang Diyakini Membawa Berkah
Mengenal Siraman Kiai Bonto, tradisi ratusan tahun di Blitar yang sarat nilai spiritual dan dipercaya membawa keberkahan.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Tradisi Siraman Kiai Bonto di Blitar merupakan ritual penyucian pusaka wayang krucil yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.
- Digelar rutin dua kali setahun, prosesi sakral ini menarik ribuan warga dan jadi daya tarik wisata budaya.
- Air bekas jamasan diyakini membawa berkah, digunakan untuk pengobatan hingga harapan kebaikan hidup.
- Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2022 dan terus dilestarikan sebagai identitas budaya lokal.
TRIBUNJATIM.COM - Tradisi Siraman Kiai Bonto menjadi salah satu warisan budaya khas Kabupaten Blitar yang masih lestari hingga kini.
Ritual ini digelar di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Jawa Timur, dan selalu menarik perhatian masyarakat setiap tahunnya.
Siraman Kiai Bonto merupakan upacara jamasan atau penyucian pusaka berupa Wayang Krucil yang dikeramatkan oleh warga setempat.
Tradisi ini tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur.
Dikutip dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, Siraman Pusaka Kiai Bonto adalah ritual budaya sakral yang memadukan unsur sejarah, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Blitar.
Prosesi utamanya adalah memandikan tiga Wayang Krucil, salah satunya bernama Mbah Bonto atau Kiai Bonto.
Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan terus diwariskan secara turun-temurun.
Masyarakat setempat masih menjaga keaslian prosesi sebagai bentuk pelestarian budaya lokal yang bernilai tinggi.
Tidak hanya itu, ritual tersebut juga diyakini memiliki kekuatan spiritual tertentu.
Air bekas jamasan sering dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan hingga harapan mendapatkan keberkahan dalam hidup.
Baca juga: Mengenal Wayang Timplong, Kesenian Unik Khas Nganjuk Evolusi Wayang Krucil yang Melintasi Zaman
Sejarah dan Asal Usul
Sejarah Siraman Kiai Bonto tidak lepas dari kisah masa Kerajaan Mataram.
Tradisi ini diyakini berkaitan dengan perjalanan tokoh bangsawan, yakni Prabu Amangkurat III atau Pangeran Prabu yang melarikan diri ke wilayah Blitar Selatan.
Dalam perjalanan tersebut, ia membawa pusaka berupa wayang krucil. Namun, setelah mengalami peristiwa duka karena wafatnya sang putri, Raden Ayu Suwartiningsih, pusaka tersebut ditinggalkan di Dusun Pakel.
Sejak saat itulah, wayang krucil tersebut disakralkan oleh masyarakat dan dikenal sebagai Kiai Bonto.
Siraman Kiai Bonto
Blitar
Jawa Timur
Kiai Bonto
Tribun Jatim
ritual adat
siraman
tradisi di Jatim
Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Dusun Pakel
TribunJatim.com
Desa Kebonsari
Kecamatan Kademangan
wisata budaya
meaningful
warisan budaya takbenda
Wayang Krucil
upacara jamasan
penyucian pusaka
pusaka keramat
| Grebeg Tengger Tirto Aji, Tradisi Pengambilan Air Suci yang Jadi Simbol Syukur dan Harmoni Alam |
|
|---|
| Tradisi Mbabar Mbubur Suro Malang, Ritual Sakral Menyambut Tahun Baru Islam di Makam Ki Ageng Gribig |
|
|---|
| Meriahnya Tradisi Tumpengan Manggis di Jombang, Dari Kirab hingga Rebutan Dua Ton Buah Gratis |
|
|---|
| Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Jaranan Kediri, Dari Legenda Dewi Songgolangit hingga Atraksi Kesurupan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Siraman-Kiai-Bonto.jpg)