Tradisi dan Budaya di Jatim

Siraman Kiai Bonto di Blitar, Tradisi Pusaka Keramat yang Diyakini Membawa Berkah

Mengenal Siraman Kiai Bonto, tradisi ratusan tahun di Blitar yang sarat nilai spiritual dan dipercaya membawa keberkahan.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Dok. pdiperjuangan-jatim.com
TRADISI SIRAMAN KIAI BONTO BLITAR - Siraman Kiai Bonto merupakan ritual sakral penyucian wayang krucil yang dikeramatkan, sarat nilai spiritual, sejarah, dan kebersamaan, serta diyakini membawa berkah bagi masyarakat Blitar. 

Ringkasan Berita:

 

TRIBUNJATIM.COM - Tradisi Siraman Kiai Bonto menjadi salah satu warisan budaya khas Kabupaten Blitar yang masih lestari hingga kini. 

Ritual ini digelar di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Jawa Timur, dan selalu menarik perhatian masyarakat setiap tahunnya.

Siraman Kiai Bonto merupakan upacara jamasan atau penyucian pusaka berupa Wayang Krucil yang dikeramatkan oleh warga setempat. 

Tradisi ini tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur.

Dikutip dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, Siraman Pusaka Kiai Bonto adalah ritual budaya sakral yang memadukan unsur sejarah, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Blitar

Prosesi utamanya adalah memandikan tiga Wayang Krucil, salah satunya bernama Mbah Bonto atau Kiai Bonto.

Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan terus diwariskan secara turun-temurun. 

Masyarakat setempat masih menjaga keaslian prosesi sebagai bentuk pelestarian budaya lokal yang bernilai tinggi.
Tidak hanya itu, ritual tersebut juga diyakini memiliki kekuatan spiritual tertentu. 

Air bekas jamasan sering dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan hingga harapan mendapatkan keberkahan dalam hidup.

Baca juga: Mengenal Wayang Timplong, Kesenian Unik Khas Nganjuk Evolusi Wayang Krucil yang Melintasi Zaman

Sejarah dan Asal Usul

Sejarah Siraman Kiai Bonto tidak lepas dari kisah masa Kerajaan Mataram. 

Tradisi ini diyakini berkaitan dengan perjalanan tokoh bangsawan, yakni Prabu Amangkurat III atau Pangeran Prabu yang melarikan diri ke wilayah Blitar Selatan.

Dalam perjalanan tersebut, ia membawa pusaka berupa wayang krucil. Namun, setelah mengalami peristiwa duka karena wafatnya sang putri, Raden Ayu Suwartiningsih, pusaka tersebut ditinggalkan di Dusun Pakel.

Sejak saat itulah, wayang krucil tersebut disakralkan oleh masyarakat dan dikenal sebagai Kiai Bonto

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved