Tradisi dan Budaya di Jatim

Badut Sinampurno Pacitan, Tradisi Ruwatan Unik Penolak Bala dan Penyucian Diri

Badut Sinampurno, tradisi ruwatan khas Pacitan, memadukan seni dan ritual sakral sebagai simbol penolak bala dan harmoni masyarakat.

Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Dok. WBTB Jatim
BADUT SINAMPURNO PACITAN - Badut Sinampurno adalah tradisi ruwatan adat yang berasal dari Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tradisi ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk menolak bala dan gangguan makhluk halus. 

Dengan akar sejarah yang kuat, Badut Sinampurno menjadi identitas budaya masyarakat setempat yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Baca juga: Tradisi Riyaya Unduh-Unduh Mojowarno Jombang, Harmoni Syukur Panen dan Toleransi Lintas Agama

Prosesi Ruwatan: Perpaduan Ritual dan Seni Pertunjukan

Dikutip dari kabudayan.id, pelaksanaan Badut Sinampurno berbentuk pertunjukan dramatik yang dipadukan dengan ritual sakral. 

Dalam prosesi ini, tokoh utama “Badut Sinampurno” tampil dengan kupluk berwarna-warni yang menjadi ciri khasnya.

Pertunjukan diiringi oleh gamelan, sinden, serta lantunan mantra yang menambah suasana sakral. Alur cerita biasanya melibatkan tokoh seperti Ki Jayaniman, Ki Demang, Kala, dan Cantrik.

Selain itu, penggunaan sesaji seperti tumpeng, ingkung, dan jenang menjadi bagian penting dalam ritual. 

Sesaji tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.

Ritual ini juga sering dikaitkan dengan tradisi ruwatan bagi anak tunggal agar terhindar dari gangguan Bethara Kala menurut kepercayaan Jawa.

Perpaduan antara seni, doa, dan simbol budaya menjadikan prosesi Badut Sinampurno sebagai tradisi yang unik dan penuh makna.

Baca juga: Tradisi Ngerujaki Banyuwangi, Ritual Tingkeban Padi Sarat Makna yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Makna Spiritual dan Nilai Budaya dalam Tradisi

Badut Sinampurno memiliki fungsi utama sebagai ruwatan, yakni ritual penyucian diri dan penolak bala, sebagaimana dilansir dari laman sidita.disbudpar.jatimprov.go.id.

Tradisi ini dipercaya mampu melindungi masyarakat dari gangguan makhluk halus maupun bencana.

Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Kegiatan seperti gotong royong, bersih desa, hingga pembagian sesaji mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat.

Selain itu, Badut Sinampurno juga berfungsi sebagai media edukasi budaya dan spiritual. 

Masyarakat diajak untuk lebih menghargai alam, menjaga lingkungan, serta memperkuat keimanan melalui simbol-simbol ritual.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved