Sejarah di Jatim

Candi Dadi Tulungagung, Jejak Peradaban Majapahit di Puncak Bukit

Terletak di puncak bukit, Candi Dadi di Tulungagung menyimpan sejarah panjang peninggalan Majapahit sekaligus menyuguhkan panorama alam yang memukau.

Dok. budayajatim.com
SEJARAH CANDI DADI TULUNGAGUNG – Candi Dadi merupakan situs cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 hingga abad ke-15, yang terletak di puncak bukit di Wajak Kidul, Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Candi ini unik karena memiliki lubang sumur di tengah bangunan utamanya dan berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pertapaan hingga saat ini. 

Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat memilih mengasingkan diri ke daerah perbukitan untuk menjalankan kehidupan keagamaan dengan lebih tenang.

Konon, lokasi di puncak bukit dipilih karena kepercayaan masyarakat kuno yang menganggap gunung sebagai tempat suci, tempat bersemayamnya para dewa dan arwah leluhur.

Keberadaan Candi Dadi sendiri telah tercatat sejak masa kolonial Belanda laporan ROD tahun 1915, sebagaimana dilansir dari budayajatim.com.

Baca juga: Sejarah Candi Kalicilik di Blitar, Peninggalan Kerajaan Majapahit dengan Relief Surya Majapahit

Struktur Unik Tanpa Tangga dan Hiasan

Candi Dadi memiliki bentuk bangunan yang cukup unik dibandingkan candi pada umumnya.

Denahnya berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 14 x 14 meter, dengan tinggi bangunan mencapai sekitar 4,5 hingga 6,5 meter.

Bangunan ini hanya terdiri dari bagian batur dan kaki candi, tanpa tangga, pintu, maupun hiasan relief. Bentuknya yang polos menjadi ciri khas tersendiri.

Pada bagian tengah candi terdapat struktur sumuran berbentuk kerucut dengan diameter sekitar 3,35 meter dan kedalaman sekitar 3,75 meter.

Bahan utama bangunan ini adalah batu andesit, dengan susunan pelipit yang memperkuat struktur, terutama karena letaknya berada di lereng bukit yang cukup curam.

Baca juga: Mengenal Candi Sumberawan di Malang, Stupa Kuno di Kaki Gunung Arjuna yang Sarat Sejarah

Diduga Sebagai Tempat Ritual Keagamaan

Fungsi Candi Dadi hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.

Menurut beberapa pendapat, candi ini merupakan stupa, sebagaimana dikemukakan oleh J.E. van Lohuizen-de Leeuw dan Van Stein Callenfels, sebagaimana dilansir dari incar.jatimprov.go.id.

Namun, pendapat berbeda disampaikan oleh arkeolog Agus Aris Munandar yang menyebut Candi Dadi sebagai Mahavedi, yakni tempat pelaksanaan upacara kurban oleh kaum Resi.

Dalam ajaran Veda, upacara tersebut dilakukan dengan membakar sesaji seperti buah, bunga, dan daging sebagai persembahan kepada para dewa.

Asap dari pembakaran diyakini akan menuju puncak gunung, tempat para dewa bersemayam.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved