Tradisi dan Budaya di Jatim

Dari Telur hingga Jodhang, Ini Makna Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi

Meriah dan penuh makna, Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi hadirkan pawai jodhang dan momen berbagi telur sebagai simbol kebersamaan warga.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Aflahul Abidin
TRADISI ENDHOG-ENDHOGAN Banyuwangi - Tradisi endhog-endhogan di Banyuwangi, Jawa Timur saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, berupa telur hias yang ditancapkan pada jodhang dan diarak keliling kampung sebagai simbol kebersamaan dan syiar Islam. 
Ringkasan Berita:
  • Tradisi endhog-endhogan di Banyuwangi digelar saat Maulid Nabi sebagai bentuk penghormatan sekaligus mempererat kebersamaan warga.
  • Telur yang dihias ditancapkan pada batang pisang bernama jodhang lalu diarak meriah dengan selawat, zikir, dan musik islami.
  • Tradisi ini menyimpan makna tentang iman, Islam, dan ihsan serta melambangkan semangat hidup dan keberlanjutan.
  • Selain bernilai religius, endhog-endhogan juga memperkuat hubungan sosial dan mendorong ekonomi masyarakat lokal.

 

TRIBUNJATIM.COM - Tradisi endhog-endhogan menjadi salah satu warisan budaya khas Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang rutin digelar setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Tradisi ini dikenal luas sebagai bentuk penghormatan dan rasa kasih masyarakat kepada Nabi, sekaligus ajang kebersamaan warga.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menghias telur rebus dengan kertas warna-warni yang dibentuk menyerupai bunga. 

Telur-telur itu ditancapkan pada batang pisang berhias yang disebut jodhang, kemudian diarak mengelilingi kampung.

Arak-arakan tersebut biasanya berlangsung meriah dengan diiringi lantunan selawat, zikir, serta musik islami seperti rebana. 

Selain diarak, jodhang juga kerap diletakkan di masjid sebelum akhirnya telur dibagikan kepada masyarakat.

Dikutip dari Kompas.com, tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid Nabi di Banyuwangi

Bahkan, hampir di setiap desa, masyarakat turut serta menyemarakkan tradisi endhog-endhogan dengan berbagai kreasi jodhang yang unik dan atraktif.

Tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga melalui kegiatan gotong royong dan kebersamaan.

Baca juga: Mengenal Tradisi Jamasan Kiai Upas, Ritual Sakral Tahunan di Tulungagung sebagai Pelindung Daerah

Tradisi endhog-endhogan. Seperti yang terlihat di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (16/9/2024).
Tradisi endhog-endhogan. Seperti yang terlihat di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (16/9/2024). (TribunJatim.com/Aflahul Abidin)

Sejarah dan Asal-usul Tradisi

Tradisi endhog-endhogan diyakini telah ada sejak akhir abad ke-18, seiring dengan berkembangnya ajaran Islam di wilayah Banyuwangi

Tradisi ini terinspirasi dari pemikiran ulama Syaikhona Kholil yang mengibaratkan perkembangan Islam seperti telur.

Makna tersebut kemudian diterjemahkan oleh salah satu muridnya, KH Abdullah Faqih, dengan membuat simbol telur yang dihias dan ditancapkan pada batang pisang. 

Tradisi ini kemudian berkembang dari kalangan santri hingga menjadi kebiasaan masyarakat luas.

Seiring waktu, tradisi endhog-endhogan mulai mendapat perhatian pemerintah daerah. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir, tradisi ini masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival sebagai agenda budaya tahunan.

Filosofi di Balik Endhog-Endhogan

Tradisi endhog-endhogan tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarat makna filosofis. 

Telur yang digunakan memiliki tiga lapisan, yakni kulit, putih, dan kuning telur yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan sebagai dasar ajaran dalam kehidupan umat Muslim.

Selain itu, batang pisang atau jodhang yang digunakan juga memiliki simbol tersendiri. 

Pohon pisang dikenal sebagai tanaman yang terus tumbuh meski dipotong, sehingga melambangkan semangat hidup dan keberlanjutan.

Melansir budaya-indonesia.org, hiasan warna-warni pada telur dan jodhang juga menggambarkan keindahan ajaran Islam yang membawa kehidupan dari masa jahiliyah menuju masa yang penuh nilai keimanan.

Makna-makna tersebut menjadikan tradisi ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan nilai edukasi dan spiritual.

Baca juga: Upacara Kebo Ketan, Tradisi Maulid Nabi di Ngawi untuk Tebar Pesan Pelestarian Alam

Tradisi endhog-endhogan Banyuwangi.
Tradisi endhog-endhogan Banyuwangi. (TribunJatim.com/Haorrahman)

Pelaksanaan dan Kemeriahan Festival

Pelaksanaan endhog-endhogan umumnya dilakukan sepanjang bulan Rabiul Awal. 

Puncaknya ditandai dengan pawai besar yang melibatkan ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai desa.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, ribuan warga mengikuti pawai dengan mengarak jodhang sejauh sekitar 1,5 kilometer. 

Pawai tersebut dihiasi berbagai ornamen islami seperti replika Ka’bah, kubah masjid, hingga bentuk kreatif lainnya.

Selain pawai, rangkaian acara biasanya dilengkapi dengan pembacaan selawat, dzikir maulid, hingga pengajian umum. 

Setelah itu, telur yang telah diarak akan dibagikan kepada masyarakat untuk dinikmati bersama.

Kemeriahan tersebut menunjukkan antusiasme warga dalam menjaga tradisi sekaligus memperingati Maulid Nabi dengan cara yang khas dan penuh makna.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Tradisi endhog-endhogan juga membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya dari sisi sosial dan ekonomi. 

Kegiatan ini mendorong semangat gotong royong karena melibatkan banyak warga dalam proses persiapan hingga pelaksanaan.

Selain itu, tradisi ini turut menggerakkan ekonomi lokal. 

Permintaan terhadap telur dan hiasan kembang endhog meningkat signifikan menjelang perayaan, sehingga memberikan peluang tambahan penghasilan bagi para perajin dan pedagang.

Baca juga: Tradisi Ngerujaki Banyuwangi, Ritual Tingkeban Padi Sarat Makna yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

KEMBANG ENDHONG - Perajin membuat kembang endhog pesanan pembeli, beberapa waktu lalu. Kembang endhog banyak dicari untuk perayaan pawai endhog-endhogan di Banyuwangi.
KEMBANG ENDHONG - Perajin membuat kembang endhog pesanan pembeli, beberapa waktu lalu. Kembang endhog banyak dicari untuk perayaan pawai endhog-endhogan di Banyuwangi. (TribunJatim.com/Aflahul Abidin)

Diketahui, para perajin kembang endhog bisa menerima pesanan hingga ribuan buah selama musim Maulid. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi budaya juga dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif masyarakat.

Dengan berbagai nilai yang terkandung di dalamnya, tradisi endhog-endhogan tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga identitas budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Banyuwangi hingga kini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved