Ramalan Cuaca Jatim

Ramalan Cuaca Jatim Minggu 26 April 2026, Gresik Jombang Pasuruan Mojokerto Hujan Ringan

Ramalan cuaca Jatim pada Minggu 26 April 2026, mayoritas wilayah di Jawa Timur mengalami cuaca cerah.

Tayang:
TribunJatim.com/Arie Noer Rachmawati
CUACA JAWA TIMUR (Arsip) - Hujan ringan mengguyur kawasan Basuki Rachmat, Surabaya, Sabtu (28/3/2026) pagi. Ramalan cuaca Jatim pada Minggu 26 April 2026, mayoritas wilayah di Jawa Timur mengalami cuaca cerah. Namun ada sejumlah daerah yang mengalami hujan di siang hari. 
Ringkasan Berita:
  • Ramalan cuaca Jatim pada Minggu 26 April 2026, mayoritas wilayah di Jawa Timur mengalami cuaca cerah.
  • Namun ada sejumlah daerah yang mengalami hujan di siang hari.
  • Sidoarjo dan Pasuruan: 25–32°C, menjadi daerah paling panas.

 

TRIBUNJATIM.COM - Simak ramalan cuaca Jatim pada Minggu 26 April 2026.

Mayoritas wilayah di Jawa Timur mengalami cuaca cerah.

Namun ada sejumlah daerah yang mengalami hujan di siang hari.

Ramalan cuaca Jatim ini dilansir dari situs BMKG

Baca juga: 10 Wilayah Rawan Banjir di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Potensi Turun Hujan

Daerah yang Diprediksi Hujan Ringan

Berdasarkan laman resmi BMKG, daerah yang diprediksi diguyur hujan ringan:

  • Banyuwangi, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jombang, Kediri
  • Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kota Probolinggo
  • Lamongan, Madiun, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi
  • Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Tuban

Suhu Udara di Jawa Timur

  • Sidoarjo dan Pasuruan: 25–32°C, menjadi daerah paling panas.
  • Kota Batu: 17–24°C, tercatat sebagai daerah terdingin.
  • Rata-rata suhu udara di Jawa Timur hari ini: 24–32°C.

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Cuaca Pancaroba, BMKG Sebut Puncak Kemarau di Jawa Timur Agustus 2026

Awal Musim Kemarau di Jatim Diprediksi Mundur

Musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan cenderung lebih kering dari biasanya.

Hal ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Timur.

Kondisi tersebut berkaitan dengan potensi munculnya fenomena El Niño pada pertengahan tahun, yang dapat memperkuat dampak kekeringan di berbagai wilayah.

Karena itu, langkah antisipasi sejak dini dinilai penting, terutama untuk sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

Berdasarkan analisis BMKG di akun Instagram @infobmkgjuanda, sekitar 75,5 persen wilayah Jawa Timur berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. 

Artinya, sebagian besar daerah akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering, dengan risiko yang meningkat terhadap kekurangan air dan kebakaran lahan.

Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, saat puluhan Zona Musim mencapai kondisi paling kering.

Selain itu, awal musim kemarau di beberapa wilayah juga diperkirakan mengalami keterlambatan atau mundur dibandingkan pola biasanya.

Sekitar 46,2 persen wilayah di Jatim baru memasuki musim kemarau lebih lambat dari jadwal normalnya.

Baca juga: Cuaca Panas di Indonesia Diprediksi Berlangsung hingga April? ini Kata BMKG

Durasi Musim Kemarau Lebih Panjang

Durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang, terjadi di sekitar 39 ZOM di Jawa Timur.

Kondisi ini semakin diperkuat dengan peluang terjadinya El Nino sebesar 50 hingga 60 persen yang diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun 2026, sehingga meningkatkan potensi kekeringan berkepanjangan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi aksi dini yang dapat dilakukan.

Pada sektor pertanian, petani disarankan menggunakan varietas padi berumur pendek dan tahan kekeringan, atau beralih ke tanaman palawija sebagai langkah adaptasi.

Sementara itu, dalam pengelolaan sumber daya air, masyarakat diimbau memaksimalkan penampungan air hujan pada akhir musim hujan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.

Selain itu, kesiapsiagaan terhadap potensi bencana juga perlu ditingkatkan, terutama dalam mengantisipasi krisis air bersih dan kebakaran lahan.

Di sisi lain, kondisi kemarau panjang juga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi garam rakyat, sebagai peluang ekonomi di tengah tantangan musim kering.

Dengan memahami prediksi ini sejak awal, diharapkan masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi dampak negatif musim kemarau 2026 di Jawa Timur.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved