Sejarah di Jatim
Candi Bacem Blitar, Reruntuhan Bersejarah Era Majapahit yang Tetap Dijaga dan Dikeramatkan
Meski tak lagi utuh, Candi Bacem jadi bukti sejarah di Blitar yang belum sepenuhnya terungkap dan diyakini memiliki makna spiritual bagi masyarakat.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Candi Bacem di Blitar merupakan situs bersejarah yang berada di Dusun Cungkup, Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan dan masih dianggap sakral oleh warga.
- Struktur candi dari bata dan andesit menunjukkan adanya tangga, umpak, serta temuan arkeologis seperti genteng dan saluran air yang diduga berkaitan dengan aktivitas ritual.
- Meski tanpa prasasti, candi ini diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit dan kemungkinan berfungsi sebagai tempat pemujaan serta warisan budaya yang perlu dilestarikan.
TRIBUNJATIM.COM – Candi Bacem menjadi salah satu situs bersejarah di Kabupaten Blitar yang menyimpan jejak peradaban masa lampau.
Meski kondisinya kini tidak utuh, candi ini tetap menarik perhatian karena nilai sejarah dan budaya yang masih melekat hingga sekarang.
Candi yang berada di Dusun Cungkup, Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan ini juga dikenal masyarakat dengan sebutan “Sadran Cungkup” dan hingga kini masih dianggap sebagai tempat yang sakral.
Lokasi dan Keberadaan Candi Bacem
Dikutip dari Kompas.com, Candi Bacem terletak di Dusun Cungkup, Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Situs ini berada di lingkungan permukiman warga dan terdiri dari dua bangunan candi yang terpisah dengan jarak sekitar 500 meter.
Menurut referensi.data.kemendikdasmen.go.id, pada masa lalu candi ini diduga dikenal dengan nama Campara, sebagaimana tercatat dalam Kitab Pararaton.
Terdiri dari Dua Bangunan Candi
Candi Bacem merupakan kompleks yang terdiri dari dua bangunan, yakni Candi Bacem I dan Candi Bacem II.
Candi Bacem I memiliki ukuran sekitar panjang 310 cm, lebar 300 cm, dan tinggi 109 cm.
Sementara Candi Bacem II berukuran lebih besar, yakni panjang 540 cm, lebar 500 cm, dan tinggi 110 cm.
Kedua bangunan tersebut kini hanya menyisakan bagian dasar atau fondasi, sedangkan bagian tubuh dan atap candi telah runtuh.
Baca juga: Candi Bangkal Mojokerto, Jejak Megah Kerajaan Majapahit dan Simbol Dewa Surya yang Tersembunyi
Struktur dan Arsitektur Bangunan
Secara arsitektur, Candi Bacem tersusun dari batu bata dengan tambahan batu andesit pada beberapa bagian. Namun, sebagian besar batu andesit tersebut sudah hilang.
Kondisi bangunan yang tersisa saat ini tidak lagi menunjukkan bentuk utuh, melainkan hanya susunan batu bata yang tidak beraturan.
Meski dalam kondisi rusak, sejumlah elemen penting masih dapat dikenali.
Pada bangunan pertama, terdapat sisa tiga tingkat anak tangga di sisi barat yang mengarah ke bagian dalam candi.
Selain itu, tangga dari batu andesit juga ditemukan pada kedua bangunan.
Pada kompleks candi ditemukan sejumlah umpak, yaitu batu penyangga tiang bangunan.
Umpak tersebut memiliki ukuran yang beragam, ada yang polos dan ada pula yang berhias.
Menurut budaya-indonesia.org, jumlah umpak di Candi Bacem mencapai sekitar 11 sampai 13 buah yang tersebar di kedua bangunan.
Umpak tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, ada yang polos maupun berhias.
Keberadaan umpak ini menunjukkan bahwa bangunan candi dahulu kemungkinan memiliki tiang dan atap dari bahan kayu yang mudah lapuk.
Selain itu, ditemukan pula kepingan genteng dan pecahan tanah liat di sekitar situs.
Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa atap candi menggunakan material genteng.
Baca juga: Pesona Candi Sirah Kencong Blitar, Jejak Majapahit di Lereng Gunung dan Kebun Teh
Temuan Arkeologis di Sekitar Candi
Selain struktur bangunan, di sekitar Candi Bacem juga ditemukan berbagai komponen arkeologis lainnya, seperti batu sudut dan antefiks, fragmen bangunan, batu lonjong, hingga sisa saluran air di bawah tanah (gorong-gorong).
Adanya saluran air tersebut diduga berfungsi untuk mengalirkan air suci, baik untuk kebutuhan ritual maupun menjaga kelembapan bangunan agar tidak cepat rusak.
Fungsi dan Sejarah yang Belum Terungkap
Hingga kini, belum ditemukan prasasti atau sumber tertulis yang secara pasti menjelaskan kapan Candi Bacem dibangun dan apa fungsi utamanya.
Namun, berdasarkan sisa bangunan yang ada, candi ini diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit.
Penggunaan material bata serta bentuk struktur yang tersisa menunjukkan ciri khas arsitektur pada masa tersebut.
Sementara itu, menurut referensi.data.kemendikdasmen.go.id, keterbatasan data sejarah membuat fungsi candi ini belum dapat dipastikan, meski kemungkinan besar digunakan sebagai tempat pemujaan.
Baca juga: Candi Kotes Blitar, Situs Majapahit Hadiah Raden Wijaya untuk Warga yang Berjasa Lawan Musuhnya
Situs yang Masih Dikeramatkan
Menariknya, hingga saat ini Candi Bacem masih dianggap sebagai tempat yang memiliki nila sakrel oleh masyarakat sekitar.
Dinukil dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, situs ini tetap dikeramatkan, dijaga, dan dihormati oleh warga setempat, bahkan kerap dikaitkan dengan berbagai tradisi lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan candi tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menyimpan makna spiritual sebagai bagian dari warisan leluhur.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Saat ini, kondisi Candi Bacem masih berupa reruntuhan yang belum dapat direkonstruksi secara utuh.
Meski hanya menyisakan bagian fondasi, Candi Bacem tetap memiliki nilai penting sebagai peninggalan sejarah di Blitar.
Keberadaan situs ini menjadi pengingat akan kehidupan dan budaya masyarakat pada masa lampau.
Oleh karena itu, pelestarian Candi Bacem menjadi hal yang penting agar warisan sejarah ini tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Candi Bacem
Candi Bacem Blitar
Sejarah Candi Bacem
Sadran Cungkup
situs peninggalan Majapahit
Kerajaan Majapahit
Dusun Cungkup
Desa Bacem
Kecamatan Sutojayan
Kabupaten Blitar
Kitab Pararaton
Candi di Blitar
Candi di Jawa Timur
Blitar
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
meaningful
| Kelenteng Kim Hin Kiong, Jejak Sejarah untuk Dewi Laut dari Era Pelabuhan Internasional Kuno Gresik |
|
|---|
| Sejarah dan Peran Museum Gubug Wayang Mojokerto dalam Melestarikan Budaya Wayang Nusantara |
|
|---|
| Sejarah Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari, Jejak Peradaban Islam Nusantara di Tebuireng |
|
|---|
| Jejak Sejarah Museum Penataran Blitar, dari Koleksi Pribadi hingga Pusat Pelestarian Cagar Budaya |
|
|---|
| Museum Anjuk Ladang, Pusat Sejarah dan Budaya Nganjuk dari Masa Kuno hingga Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Candi-Bacem-Blitar.jpg)