Tragedi Dokter Internship Berulang, DPR RI Minta Kemenkes Audit Sistem Secara Total

Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, kabar duka datang dari dunia kesehatan Indonesia.

Tayang:
Istimewa
AUDIT - DPR RI Pulung Agustanto beberapa waktu lalu saat reses. Meninggalnya dokter internship, Myta Aprilia Azmy dengan dugaan kuat kelelahan akibat beban kerja tinggi, anggota DPR RI Pulung Agustanto meminta audit menyeluruh.  

Ringkasan Berita:
  • Dokter internship diduga bekerja tanpa libur hingga tiga bulan dan tetap bertugas meski sakit.
  • DPR RI mendesak audit menyeluruh terhadap sistem perlindungan tenaga medis.
  • Kasus ini menambah daftar kematian dokter muda di beberapa daerah sepanjang 2026.

Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, kabar duka datang dari dunia kesehatan Indonesia.

Seorang dokter internship, Myta Aprilia Azmy, seorang tenaga medis muda yang sedang menjalani program internship (magang) di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, menghembuskan napas terakhirnya. 

Meninggalnya dokter internship, Myta Aprilia Azmy dengan dugaan kuat kelelahan akibat beban kerja tinggi, anggota DPR RI Pulung Agustanto meminta audit menyeluruh.

“Kejadian ini bukan sekadar berita duka, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam manajemen perlindungan tenaga medis kita di mana seorang pekerja kemanusiaan justru kehilangan nyawa akibat beban kerja yang tidak manusiawi,” ungkap anggota Komisi IX ini.

Dia menjelaskan bahwa berdasarkan  laporan dari IKA FK Universitas Sriwijaya, dr. Myta diduga dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisik manusia. 

Terdapat indikasi kuat bahwa dr. Myta  bertugas selama tiga bulan berturut-turut tanpa libur di bangsal dan IGD, sering kali tanpa supervisi dokter definitif yang seharusnya mendampingi tenaga magang.

Baca juga: Sosok Dirut RSUD Diminta Tak Tutupi Kasus Dokter Magang Meninggal usai Disuruh Kerja Meski Sakit

Tetap Bertugas Meski Kondisi Memburuk

Menurut laporan tersebut, kondisi memuncak saat dr. Myta tetap diwajibkan menjalani jaga malam meski kesehatannya terganggu dengan gejala demam tinggi, sesak napas, dan saturasi oksigen yang anjlok hingga 80 persen.

“Menugaskan seseorang yang sedang sesak napas untuk tertugas adalah tindakan yang tidak bisa dinalar. Kita sedang membicarakan nyawa manusia, bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti,” tegas Pulung.

Legislator asal PDI Perjuangan ini mengingatkan bahwa tragedi di Jambi ini menambah daftar panjang dokter muda yang gugur saat bertugas di tahun 2026. 

Dalam pemantauannya, setidaknya sudah ada empat kasus dokter internship yang meninggal dunia di berbagai wilayah.

Rentetan Kasus Dokter Muda Meninggal

Dari catatan, selain di RSUD KH Daud Arif, Jambi, kejadian yang mengakibatkan dokter internship meninggal dunia juga terjadi di RSUD Pagelaran Cianjur, RS Bhayangkara Denpasar, serta RSUD Soesilo Swali, Tegal. 

Meski, jelas dia, latar belakang medis setiap kasus mungkin berbeda, namun rentetan kematian dokter muda dalam waktu yang berdekatan ini sudah lebih dari cukup bagi Kementerian Kesehatan untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh. 

“Kita harus mencari akar masalahnya, apakah ini masalah sistemik, kegagalan supervisi, atau budaya kerja yang toksik,” tambah Pulung kepada Tribunjatim.com.

Pulung juga  meminta Kemenkes RI tidak hanya melihat ini sebagai 'angka statistik' atau kejadian medis biasa.

Pun mendesak adanya reformasi pada Program Internship Dokter Indonesia (PIDI). 

“Terutama soal pengaturan jam kerja yang lebih manusiawi dan perlindungan kesehatan tenaga medis. Jangan sampai tunas-tunas muda berguguran karena kecerobohan dan kekacauan system kita,” pungkas Pulung.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved