Sejarah di Jatim

Benteng Lodewijk Gresik, Strategi Daendels Hadang Inggris yang Kini Tinggal Reruntuhan Bersejarah

Dibangun 1808 oleh Daendels untuk menahan serangan Inggris, Benteng Lodewijk di Gresik kini menyisakan jejak sejarah penting di pesisir Jawa.

Tayang:
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Kompas.com
BENTENG LODEWIJK GRESIK – Benteng Lodewijk adalah benteng yang terletak di Kelurahan Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Benteng Lodewijk dibangun tahun 1808 atas perintah Gubernur Jendral Hindia Belanda, Herman Willem Daendles untuk menghadang pasukan Inggris. 

Benteng ini berjarak sekitar 6 mil dari Gresik dan 5 mil dari Ujung Pangkah. Lokasi ini dipilih untuk menghalau pasukan Inggris yang datang dari arah Laut Jawa.

Benteng ini mampu menampung hingga 800 prajurit dan dilengkapi dengan 102 meriam, menjadikannya salah satu benteng pertahanan yang cukup kuat pada masanya.

Namun, meski telah dibangun dengan persiapan matang, pada tahun 1811 pasukan Inggris tetap berhasil mengepung wilayah Gresik, menandai awal berakhirnya kekuasaan Belanda di Jawa untuk sementara waktu.

Baca juga: Sejarah Benteng Kedung Cowek Surabaya, Saksi Bisu Pertempuran 10 November 1945

Asal-usul Benteng Lodewijk 

Nama Benteng Lodewijk sendiri diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Louis Napoleon Bonaparte. Nama “Lodewijk” merupakan versi Belanda dari “Louis”.

Louis Napoleon adalah sosok yang mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sehingga penamaan benteng ini memiliki nilai politis sekaligus simbol loyalitas.

Sebagaimana dalam sumber Disparekrafbudpora Gresik, benteng ini memiliki fungsi utama sebagai pertahanan laut untuk menjaga akses menuju Surabaya, yang saat itu merupakan pusat penting pemerintahan dan perdagangan.

Benteng ini dibangun dengan ukuran cukup besar, yakni sekitar 400 meter panjang dan 250 meter lebar. 

Hal ini menunjukkan bahwa Benteng Lodewijk dirancang sebagai basis militer utama di kawasan tersebut.

Posisi benteng memungkinkan pengawasan langsung terhadap aktivitas di Selat Madura, Pelabuhan Surabaya, serta jalur pelayaran penting lainnya.

Namun, meskipun memiliki peran strategis, perkembangan politik dan militer pada masa itu membuat fungsi benteng ini tidak bertahan lama.

Baca juga: Sejarah Benteng Van den Bosch Ngawi, Dari Perang Jawa hingga Kamp Interniran

Perubahan Fungsi Benteng

Dinukil dari berbagai sumber, setelah Inggris berhasil menguasai Jawa pada tahun 1811 melalui peristiwa Kapitulasi Tuntang, peran Benteng Lodewijk mulai berkurang.

Setelah kekuasaan kembali ke tangan Belanda, pusat pertahanan dipindahkan ke Surabaya, sehingga Benteng Lodewijk tidak lagi menjadi prioritas utama.

Pada tahun 1857, sebagaimana disebutkan dalam sumber sejarah, benteng ini akhirnya dihancurkan oleh Belanda sendiri sebagai bagian dari perubahan strategi pertahanan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved