Siswa Kelas 6 SD yang Terpapar Kelompok Teroris Masih Didampingi UPT PPA Tulungagung

UPT PPA terus berkomunikasi dengan orang tua siswa ini untuk pengawasan, sekaligus mengarahkannya ke hal positif.

Tayang:
Penulis: David Yohanes | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/David Yohanes
TERPAPAR KOELOMPOK RADIKAL - Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengaku masih mendampingi siswa kelas 6 SD yang terpapar terorisme. Upaya deradikalisasi sudah berhasil, namun sang anak masih perlu diarahkan agar tidak kembali berkomunikasi dengan kelompok radikal. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Siswa 6 SD yang terpapar kelompok teroris masih didampingi Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kabupaten Tulungagung.

Sebelumnya, siswa ini berkenalan dengan perekrut kelompok radikal melalui gim daring.

Baca juga: Unta Viral Peternakan Mojokerto Kini Diborong Kasatreskrim Polrestabes Surabaya: Kita Ambil Semuanya

Siswa ini lalu dimasukkan dalam grup Telegram yang berisi doktrin untuk melakukan aksi terorisme.

"Dia ketahuannya saat masih tahap awal. Tapi kalau diteruskan, masuknya doktrin terorisme," jelas Kepala UPT PPA Kabupaten Tulungagung, Dwi Yanuarti.

Keberadaan siswa ini dalam grup terorisme diketahui dari pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Proses deradikalisasi dilakukan sejak awal Desember 2025, hingga saat ini sudah membuahkan hasil.

Dari sikapnya yang sebelumnya tertutup dengan orang lain, kini terbuka dan berkomunikasi dengan ceria.

"Dulu kalau ketemu orang pasti menunduk, tidak mau melihat wajah. Sekarang dia sudah ceria, berkomunikasi dengan siapa saja," sambung Dwi.

Saat ini, UPT PPA terus berkomunikasi dengan orang tua siswa ini untuk pengawasan, sekaligus mengarahkannya ke hal positif.

Pendampingan terakhir UPT PPA membawa siswa ini ke psikolog untuk mengetahui bakat dan sisi positifnya.

Pemetaan bakat dan psikologi ini penting untuk mengarahkannya di kemudian hari, agar tidak tertarik pada paham radikalisme.

"Ternyata dia senang gim daring, kami salurkan lewat organisasi e-sport. Kami ikutkan setiap kali ada turnamen," ungkap Dwi.

Pengawasan orang tua

UPT PPA juga menekankan pengawasan dari orang tua selama proses pendampingan.

Menurut Dwi, siswa ini sebenarnya ingin validasi diri untuk menunjukkan dirinya hebat.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved