Jelang Muktamar NU, Gus Hans Soroti Pemimpin Berintegritas: Menentukan Arah Nahdlatul Ulama

Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang

Tayang:
Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Anggit Puji Widodo
MUKTAMAR NU - Dokumentasi Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans (kanan pada gambar) saat mengurus berkas pencalonan wakil gubernur di Pengadilan Negeri Jombang pada Kamis 24 Agustus 2024 silam. Muktamar penentu arah kemana arah NU. 

Ringkasan Berita:
  • Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans menilai Muktamar Nahdlatul Ulama menjadi momentum penting menentukan arah NU di abad kedua. Ia berharap pemimpin PBNU mendatang memiliki integritas, sifat wira’i, kedalaman ilmu agama, serta mampu menjaga keteduhan dan persatuan organisasi.
  • Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyatakan siap menjalankan amanah jika didorong maju dalam Muktamar PBNU, meski tidak pernah meminta jabatan.

 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo


TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans, menyampaikan pandangannya terkait sosok ideal yang layak memimpin PBNU pada periode mendatang.

Dalam sebuah video yang diterima Tribunjatim.com, menurut Gus Hans, Muktamar kali ini menjadi momentum penting bagi arah perjalanan NU di abad kedua.

Karena itu, pemilihan pemimpin dinilai tidak boleh hanya mempertimbangkan kapasitas intelektual, tetapi juga integritas moral dan keteduhan sikap.

"Muktamar ini akan menentukan ke mana arah Nahdlatul Ulama di abad kedua," ucap Gus Hans dalam keterangannya di dalam video tersebut, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Titik Terang Jadwal Muktamar NU, Katib PBNU Klaim Rais Aam dan Ketum Sepakat Dilaksanakan Agustus

Ia menilai posisi Rais ‘Aam membutuhkan figur ulama yang memiliki sifat wira’i atau kehati-hatian dalam menjaga moralitas dan integritas.

Selain memiliki kedalaman ilmu agama, pemimpin NU juga diharapkan mampu menghadirkan kesejukan dalam setiap sikap maupun pernyataan kepada masyarakat.

Menurutnya, sosok pemimpin yang santun dan berwibawa akan lebih mudah diterima oleh seluruh kalangan Nahdliyin.

"Mudah-mudahan para pemilik suara menggunakan hati nurani untuk memilih tokoh yang memiliki wira’i dan keilmuan yang tinggi," katanya.

Selain menyoroti posisi Rais ‘Aam, Gus Hans juga memberi perhatian terhadap figur Ketua Umum PBNU mendatang. Ia berharap jabatan tersebut diisi tokoh yang benar-benar fokus mengurus organisasi dan pembinaan masyarakat tanpa dibebani kepentingan pribadi.

Ia menegaskan, tantangan NU ke depan membutuhkan tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan dipimpin oleh figur yang berintegritas.

"Ketua Umum PBNU ke depan harus mampu fokus mengabdi untuk umat dan organisasi," ungkapnya.

Dalam pandangannya, Muktamar juga sebaiknya menjadi ruang rekonsiliasi internal yang sehat. Ia berharap figur-figur yang memiliki rekam jejak konflik tidak lagi mendominasi kepengurusan agar organisasi dapat bergerak lebih efektif.

Menurut Gus Hans, pembaruan kepemimpinan diperlukan agar PBNU mampu menjawab tantangan zaman dan tetap relevan di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved