Penanganan Ampuh Tuberkulosis, Mulai Dari Deteksi Dini Hingga Waspada Pengidap TB Tanpa Gejala

Indonesia kini berada dalam posisi yang mengkhawatirkan dengan menduduki peringkat kedua dunia sebagai penyumbang kasus TB terbanyak

Editor: Samsul Arifin
Istimewa
SPESIALIS - Dokter Spesialis Paru dari RS Premier Surabaya, dr. Elvina Elizabeth Lius, Sp.P, untuk mengungkapkan fakta-fakta terbaru mengenai penanganan Tuberkulosis. 

Ringkasan Berita:
  • Indonesia peringkat kedua dunia kasus TB, target bebas TB 2030 masih penuh tantangan.
  • TB laten berbahaya karena bisa aktif kembali saat imun menurun.
  • Stigma sosial membuat penderita dikucilkan, menghambat deteksi dini dan pengobatan.

TRIBUNJATIM.COM – Tantangan kesehatan di Indonesia pada awal tahun 2026 masih dibayangi oleh tingginya kasus penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB). 

Indonesia kini berada dalam posisi yang mengkhawatirkan dengan menduduki peringkat kedua dunia sebagai penyumbang kasus TB terbanyak setelah India.

Hal ini memicu urgensi tinggi bagi masyarakat untuk memahami penanganan terkini demi mencapai target Indonesia Bebas TB pada tahun 2030.

Melalui sebuah liputan eksklusif, Mata Lokal Tribunnews Jatim menggandeng Dokter Spesialis Paru dari RS Premier Surabaya, dr. Elvina Elizabeth Lius, Sp.P, untuk mengungkapkan fakta-fakta terbaru mengenai penanganan penyakit ini. 

Ia menegaskan bahwa kunci utama dalam memutus rantai penularan adalah pemahaman yang tepat mengenai deteksi dini dan kewaspadaan terhadap pengidap tanpa gejala.

Baca juga: Mendadak Nyeri Lutut & Sulit Berjalan? ini Imbauan Dokter Spesialis Bedah Tulang RS Premier Surabayahh

Fakta Tentang Tuberkulosis

Langkah awal yang paling krusial dalam memerangi tuberkulosis adalah meluruskan miskonsepsi yang berkembang luas di masyarakat. dr. Elvina menegaskan bahwa TB bukanlah penyakit virus atau bagian dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang bisa disepelekan.

"Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga bukan disebabkan oleh virus. Penyakit ini menular melalui percikan droplet di udara, yaitu partikel kecil yang keluar saat penderita TB batuk, bersin, atau bicara, kemudian terhirup oleh orang lain," ujar dr. Elvina.

Ia melanjutkan bahwa penularan penyakit ini bisa saja melalui batuk, droplet, hingga inhalasi.

Baca juga: RS Premier Surabaya Ungkap Rahasia Penanganan Kanker Payudara, Dokter Bedah Onkologi: Tak Usah Takut

Fakta lain yang mengejutkan adalah bakteri TB tidak hanya menyerang paru-paru. dr. Elvina menjelaskan bahwa kuman ini dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh melalui aliran darah (secara hematogen) maupun melalui sistem kelenjar getah bening (secara limfogen).

“Tuberkulosis tidak hanya mengenai paru, tetapi juga bisa menyerang banyak organ lain. Misalnya kelenjar getah bening, otak, tulang, ginjal, saluran kemih, rahim, dan organ lainnya,”tegasnya.

Bahaya TB Laten dan Jeratan Stigma Sosial

Salah satu fenomena medis yang paling menantang dalam pengendalian TB di Surabaya dan Indonesia pada umumnya adalah keberadaan TB Laten. Kondisi ini merujuk pada individu yang telah terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala klinis karena kuman dalam kondisi tidur atau dorman.

"TB laten adalah kondisi ketika seseorang sudah terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, tetapi tidak bergejala, yang artinya kuman TB memang ada di dalam tubuh, namun masih dalam keadaan dorman atau ‘tidur’, sehingga belum menimbulkan penyakit," tuturnya. 

“Bahaya utama dari kuman yang ‘tidur’ (dorman) ini adalah bisa aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun. Jika hal itu terjadi, TB laten dapat berkembang menjadi TB aktif yang menimbulkan gejala dan dapat menular.”

“Karena itu, pada orang dengan TB laten diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencegah kuman menjadi aktif,” jelasnya.

Sayangnya, upaya deteksi dini TB masih sering terhambat oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan kuatnya stigma sosial.” dr. Elvina menyoroti kondisi ini masih sering ditemui di lapangan, termasuk di wilayah Surabaya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved