Waspada Child Grooming di Era Digital, IDAI Ingatkan Peran Penting Orang Tua

Child grooming adalah manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap untuk mengeksploitasi anak.

Tayang:
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Nur Ika Anisa
CHILD GROOMING - Foto screen capture DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia yang membahas terkait child grooming melalui daring yang diikuti Tribun Jatim Network, Selasa (31/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Child grooming adalah manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap untuk mengeksploitasi anak.
  • Kasus sering tidak terdeteksi karena berlangsung halus dan dianggap sebagai perhatian biasa.
  • Kurangnya perhatian keluarga dan pengawasan digital meningkatkan risiko anak menjadi korban.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai praktik child grooming yang kerap terjadi secara diam-diam dan sulit terdeteksi, terutama di era digital saat ini.

Kasus grooming ini sering kali bersifat silent atau tidak terlihat. Padahal, pada akhirnya, tindakan ini bisa berujung pada kekerasan seksual.

“Sebetulnya itu manipulasi psikologis yang secara tertata sistematis membangun kedekatan emosi, kedekatan kepercayaan, yang nantinya dijadikan korban eksploitasi seksual,” ujar DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui daring yang diikuti Tribun Jatim Network, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: DPR Minta Negara Atasi Child Grooming usai Buku Broken Strings Aurelie Moeremans Viral

Grooming Bukan Sekadar Perkenalan Biasa

Dokter Piprim menyebut, tindakan tersebut kerap kali tidak disadari, apalagi ketika orang tuanya tidak memberikan perhatian atau kasih sayang yang cukup.

Pola kedekatan tersebut terjadi secara perlahan. Bahkan, tidak jarang anak menganggap pelaku sebagai sosok yang peduli atau perhatian, sehingga perilaku tersebut terlihat ‘normal’ di mata mereka.

Baca juga: Apa itu Child Grooming? Kisah Pahit Aurelie Moeremans di Usia 15 Tahun di Buku Broken Strings

“Bagaimana perhatian di keluarga harus diberikan kepada anak-anak, jadian mereka teman, sahabat, apalagi saat remaja. Jangan sampai anak-anak haus kasih sayang sehingga mudah termanipulasi orang yang pura-pura mendukung,” sebutnya.

Sementara itu, DR Dr Ariani, SpA, Subsp TKPS(K) selaku Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI meminta masyarakat untuk lebih waspada akan kasus child grooming

Berlangsung Diam-Diam dan Sulit Disadari

Apalagi di era digital seperti sekarang, anak-anak hampir tidak pernah lepas dari gadget. Hal ini membuat praktik grooming semakin mudah terjadi dan sering kali tidak terdeteksi.

Berbeda dengan ancaman fisik yang cenderung jelas, grooming justru terjadi secara halus, terencana, dan melalui tahapan tertentu.

Pelaku memanfaatkan ketidaktahuan anak, serta kurangnya pengawasan dari keluarga maupun lingkungan.

“Sebenarnya ujung-ujungnya untuk manipulatif kekerasan seksual,” sebutnya.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa kata kunci penting dalam grooming, yaitu adanya pendekatan emosional, manipulasi psikologis, serta proses desensitisasi terhadap perilaku seksual.

Artinya, anak secara perlahan dibuat menganggap hal-hal yang seharusnya tidak wajar menjadi sesuatu yang normal atau seseorang yang peduli.

“Pada child grooming ini sering kali memanfaatkan ketidaktahuan korban maupun kelalaian lingkungan. Prosesnya bertahap, tidak serta merta dalam satu waktu atau satu jam. Pelaku perlahan mendekati dan memanipulasi psikologis. Tujuannya agar anak tidak tahu batasan normal, yang tidak boleh diperbolehkan, dan akhirnya menciptakan peluang eksploitasi,” tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved