Dari Kecemasan hingga Hoaks, Remaja Diingatkan Bijak Gunakan Smartphone
Smartphone lekat dengan remaja, menawarkan akses informasi dan hiburan, namun penggunaannya yang berlebihan menimbulkan dampak negatif
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Ndaru Wijayanto
Dorong Kreativitas Tanpa Ketergantungan Gawai
Menurutnya, banyak materi ajar yang tetap dapat dilakukan tanpa gawai, terutama yang menuntut kreativitas dari dalam diri siswa.
“Anak harus menulis, harus membuat ide kreatif tanpa melihat dari media atau Google. Ide itu harus muncul dari dirinya, sesuai materi yang diberikan guru,” tegasnya.
Meski begitu, ia menilai penggunaan handphone tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, terutama ketika pembelajaran daring diterapkan. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana siswa dan orang tua memahami batasan penggunaannya.
Suhartono juga meminta orang tua tidak menganggap larangan membawa gawai ke sekolah sebagai pembatasan ruang gerak anak.
“Orang tua harus paham. Larangan membawa handphone bukan untuk membatasi anak, tapi bagian dari proses pembelajaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, sekolah tetap perlu menerapkan sistem reward dan punishment agar siswa memahami konsekuensi dari perilaku mereka, termasuk dalam penggunaan gawai.
Penggunaan Gawai Tetap Dimungkinkan, Asal Terukur
Suhartono menegaskan bahwa pemanfaatan handphone bisa dilakukan, bergantung pada materi pembelajaran dan kebutuhan kelas.
“Menurut saya, penggunaan handphone ada baiknya. Itu bisa dimanfaatkan, tapi harus sesuai dengan materi yang ingin ditekankan kepada anak-anak,” pungkasnya.
Diskusi ini menjadi ruang dialog bagi pelajar untuk memahami risiko dan manfaat penggunaan media digital, sekaligus menguatkan literasi digital di kalangan generasi muda Jawa Timur.
Dalam kesempatan yang sama, Sekjen FJPI Tri Ambarwatie mengingatkan remaja adalah pengguna internet paling aktif sekaligus target terbesar penyebaran hoaks. Dalam upaya menangkal penyebaran informasi palsu, para peserta dibekali metode lateral reading melalui kanal resmi cek fakta.
FJPI juga membagikan lima langkah anti-hoaks. Di antaranya, jeda sebelum membagikan, cek sumber, uji gambar, verifikasi melalui situs resmi, dan membandingkan dengan media kredibel. Dengan kata lain saring dulu informasi sebelum share.
Tri Ambarwatie menegaskan generasi muda memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membendung arus misinformasi.
“Satu klik verifikasi dapat menyelamatkan banyak orang dari kepanikan,” tutupnya
| Sampah Medis Ditemukan di Irigasi Kota Malang, Dinkes dan DLH Lakukan Penyelidikan |
|
|---|
| Arema FC Lolos Lisensi Klub 2026, Manajemen Siap Benahi Aspek Kepelatihan |
|
|---|
| Jelang Idul Adha 2026, Polisi di Lamongan Patroli Kandang Ternak Antisipasi Pencurian |
|
|---|
| Pacitan Dapat 2.737 Bantuan Rumah Layak Huni Tahun 2026, Pemerintah Minta Tepat Sasaran |
|
|---|
| Pelajar Kota Batu Bisa Nikmati Promo Tiket Mikutopia Diskon 50 Persen saat Libur Panjang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Kegiatan-FJPI-Jatim-yang-membaha-kecemasan-hingga-hoaks-bersama-para-pelajar-di-Surabaya.jpg)