Demam Bola Dunia 2026

Prof Imam Soroti Anomali Kebijakan FIFA Jelang Piala Dunia 2026

Gegap gempita perhelatan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko menarik perhatian kalangan masyarakat Indonesia.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Ndaru Wijayanto
Istimewa
FIFA TEBANG PILIH - Guru Besar Bidang Kepelatihan Sepak Bola Usia Dini Fakultas Ilmu Olahraga Unesa, Prof Dr Imam Syafi'i, MKes (kaos warna merah) ketika berada di Stanford University, AS dala pertukaran program pelatih dan pemain muda di tahun 2011 

 

Ringkasan Berita:
  • Guru Besar FIO Unesa Prof Imam Syafi’i menilai ada anomali kebijakan FIFA terkait konflik geopolitik menjelang Piala Dunia 2026.
  • FIFA dinilai berbeda dalam menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dibanding AS dan Israel yang tetap diizinkan mengikuti agenda sepak bola internasional

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ahmad Faisol

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Gegap gempita perhelatan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko menarik perhatian kalangan masyarakat Indonesia.

Beragam komentar berkaitan prediksi juara dan tim yang dijagokan menjadi perbincangan kalangan pecinta sepak bola mulai dari pelatih, pemain, pejabat publik, hingga akademisi. 

Event akbar sepak bola empat tahunan kali ini digelar di tengah memanasnya konflik atas agresi militer AS-Israel terhadap Iran yang tidak kunjung mereda.

Kondisi memantik reaksi keras dari berbagai kalangan hingga mempertanyakan kebijakan FIFA selaku otoritas sepak bola dunia setelah AS dan Israel lepas dari sanksi setelah menggencarkan agresi militer ke Iran .

Baca juga: Demam Piala Dunia 2026 di Gresik, Jersey Argentina Hingga Portugal Paling Diburu

Guru Besar Bidang Kepelatihan Sepak Bola Usia Dini Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) Unesa, Prof Dr Imam Syafi'i, MKes mengungkapkan, sikap FIFA sangat berbeda terhadap Rusia karena agresinya terhadap Ukraina yang langsung memberikan sanksi berupa larangan Timnas Rusia mengikuti semua kegiatan sepak bola dunia.  

Negara pecahan Uni Soviet itu, lanjut Prof Imam, batal bertanding di Piala Dunia 2022, Piala Eropa 2024, dan kejuaraan antar klub hingga 2026. Menurutnya, sanksi itu adalah wajar karena memang jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip aturan FIFA dan hukum internasional.

"Terjadi anomali kebijakan FIFA, tidak ada sanksi untuk AS yang awal tahun melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Begitu juga sikap FIFA terhadap Israel yang telah melakukan genosida di Palestina, namun masih diizinkan mengikuti kegiatan sepak bola berskala internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia 2026," ungkap pria asal Kabupaten Bangkalan itu kepada Tribun Madura, Jumat (29/5/2026).

Event akbar empat tahunan Piala Dunia digelar mulai 11 Juni-19 Juli 2026 itu diikuti sebanyak 48 negara yang terbagi dalam 12 grup.

Grup A bercokol Meksiko, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Republik Ceko. Grup B terdiri dari Kanada, Bosnia-Herzegovina, Qatar, dan Swiss. 

Grup C diisi Brasil, Maroko, Hairi, dan Skotlandia. Grup D ada AS, Paraguay, Australia, Turki. Grup E teridiri dari Jerman, Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador.

Grup F bercokol Belanda, Jepang, Swiss, dan Tunisia. Grup G terdiri dari Belgia, Mesir, Iran, dan Selandia Baru. 

Grup H diisi Spanyol, tanjung Verde, Arab Saudi, dan Uruguay. Grup J terdiri dari Argentina, Aljazair, Austria, dan Yordania.

Grup K bercokol Portugal, Republik Demokratik Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia, dan Grup L tediri dari Inggris, Kroasia, Ghana, dan Panama. 

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved