Tidak Naikkan Harga, Perajin Tempe di Kepanjen Malang Pilih Tipiskan Ukuran
Kenaikan harga kedelai impor berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Harga kedelai impor naik sejak awal 2026, dari kisaran Rp 9.300 menjadi Rp 9.600–Rp 10.600 per kilogram, berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kepanjen.
- Perajin seperti Suharni memilih tidak menaikkan harga jual tempe, tetapi mengurangi ukuran tempe untuk menyiasati kenaikan bahan baku.'
- Perajin lain, Satuni, memilih mengambil keuntungan tipis tanpa mengurangi ukuran tempe, meski harga kedelai naik tajam dibanding sebelumnya.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Lu'lu'ul Isnainiyah
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kenaikan harga kedelai impor berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Meski bukan hal baru, kenaikan harga bahan baku tetap memaksa perajin mencari cara agar usaha mereka tetap bertahan.
Di desa ini ada beberapa warga yang sejak lama memproduksi tempe kedelai. Dengan adanya fluktuasi harga kedelai bukan menjadi hal baru bagi mereka. Sebab, para perajin masih bisa mengakalinya.
Suharni, merupakan salah satu warga Desa Penarukan yang sudah bergelut sebagai perajin tempe selama 43 tahun. Setiap hari ia harus bergelut dengan panasnya dapur tradisional dengan tungku bakar di belakang rumahnya.
Saat ditemui, Selasa (27/1/2025), wanita berusia 65 tahun itu sedang mengurai kedelai yang baru direbus di sebuah papan kayu. Kedelai itu dicampur dengan ragi untuk masuk proses fermentasi.
"Sekarang harga kedelai naik. Yang wungkul Rp 9.600 per kilogram, sebelumnya itu Rp 9.300 per kilogram. Kalau yang pecahan atau sudah diselep itu Rp 10.600 per kilogram," katanya.
Kenaikan ini sudah terjadi sejak memasuki tahun baru 2026. Meskipun bahan baku naik, Suharni tidak bisa menaikkan harga tempe. Namun, untuk menyiasatinya, ia lebih memilih untuk mengurangi ukuran tempe dibanding biasanya.
"Harga jual nggak berubah, ya ini tempenya di tipisin ukurannya," tandasnya.
Setiap hari, ia mampu memproduksi kisaran 30 kilogram kedelai. Selanjutnya tempe tersebut akan diambil atau dijual tengkulak di Pasar Kepanjen maupun pedagang sayur keliling.
Baca juga: Siasati Kenaikan Harga Kedelai, Pengusaha Tahu di Bondowoso Kecilkan Ukuran
Ia menjualnya tempe satu papan seharga Rp 10 ribu. Oleh tengkulak tempe tersebut bisa dibagi dengan ukuran yang lebih kecil.
Kendati harga kedelai belakangan sedang naik, namun tidak semahal dengan harga di beberapa tahun yang lalu. Menurut, harga kedelai sempat menyentuh di harga Rp 11.300 per kilogram.
"Ya mungkin tiga tahun lalu, harganya sempat sampai Rp 11.300 an. Mau tidak mau ya ditipisin lagi tempenya," sambungnya.
Selain memproduksi tempe kedelai, Suharni juga memproduki tempe bungkil yaitu tempe yang khas dari Malang. Tempe ini banyak peminatnya di beberapa kalangan terutama dari warga Malang.
Selanjutnya, hala senada juga disampaikan oleh perajin tempe lainnya di Desa Penarukan yaitu Satuni. Kenaikan harga tempe sudah terjadi sejak tahun baru 2026.
Baca juga: Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Sanan Malang Khawatir Tembus Rp15 Ribu per Kilo
| Siswa SMP Didatangi Polisi di Sekolah Setelah Iseng Telpon 110, Teriak Minta Tolong |
|
|---|
| Chord dan Lirik Lagu Penyangkalan - for Revenge, Sesunyi Rumah yang Ku Huni |
|
|---|
| Lirik dan Terjemahan Lagu Right As Rain - Adele, Who Wants To Be Right As Rain |
|
|---|
| Makna Lirik Lagu Love Me Not - Ravyn Lenae, It’s Hard To Leave You When I Get You Everywhere |
|
|---|
| Ramalan Cuaca Jatim Kamis 28 Mei 2026, Mayoritas Cerah, 7 Daerah Potensi Hujan Siang Hari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Perajin-tempe-di-Desa-Penarukan-Kecamatan-Kepanjen-Kabupaten-Malang.jpg)