Tidak Naikkan Harga, Perajin Tempe di Kepanjen Malang Pilih Tipiskan Ukuran

Kenaikan harga kedelai impor berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Tayang:
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Luluul Isnainiyah
PRODUKSI TEMPE: Perajin tempe di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (27/1/2026). Harga kedelai naik, perajin tempe siasati dengan mengecilkan ukuran tempe. 

 

Ringkasan Berita:
  • Harga kedelai impor naik sejak awal 2026, dari kisaran Rp 9.300 menjadi Rp 9.600–Rp 10.600 per kilogram, berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kepanjen.
  • Perajin seperti Suharni memilih tidak menaikkan harga jual tempe, tetapi mengurangi ukuran tempe untuk menyiasati kenaikan bahan baku.'
  • Perajin lain, Satuni, memilih mengambil keuntungan tipis tanpa mengurangi ukuran tempe, meski harga kedelai naik tajam dibanding sebelumnya.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Lu'lu'ul Isnainiyah

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kenaikan harga kedelai impor berdampak pada perajin tempe di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Meski bukan hal baru, kenaikan harga bahan baku tetap memaksa perajin mencari cara agar usaha mereka tetap bertahan.

Di desa ini ada beberapa warga yang sejak lama memproduksi tempe kedelai. Dengan adanya fluktuasi harga kedelai bukan menjadi hal baru bagi mereka. Sebab, para perajin masih bisa mengakalinya. 

Suharni, merupakan salah satu warga Desa Penarukan yang sudah bergelut sebagai perajin tempe selama 43 tahun. Setiap hari ia harus bergelut dengan panasnya dapur tradisional dengan tungku bakar di belakang rumahnya. 

Saat ditemui, Selasa (27/1/2025), wanita berusia 65 tahun itu sedang mengurai kedelai yang baru direbus di sebuah papan kayu. Kedelai itu dicampur dengan ragi untuk masuk proses fermentasi.

"Sekarang harga kedelai naik. Yang wungkul Rp 9.600 per kilogram, sebelumnya itu Rp 9.300 per kilogram. Kalau yang pecahan atau sudah diselep itu Rp 10.600 per kilogram," katanya.

Kenaikan ini sudah terjadi sejak memasuki tahun baru 2026. Meskipun bahan baku naik, Suharni tidak bisa menaikkan harga tempe. Namun, untuk menyiasatinya, ia lebih memilih untuk mengurangi ukuran tempe dibanding biasanya. 

"Harga jual nggak berubah, ya ini tempenya di tipisin ukurannya," tandasnya. 

Setiap hari, ia mampu memproduksi kisaran 30 kilogram kedelai. Selanjutnya tempe tersebut akan diambil atau dijual tengkulak di Pasar Kepanjen maupun pedagang sayur keliling. 

Baca juga: Siasati Kenaikan Harga Kedelai, Pengusaha Tahu di Bondowoso Kecilkan Ukuran

Ia menjualnya tempe satu papan seharga Rp 10 ribu. Oleh tengkulak tempe tersebut bisa dibagi dengan ukuran yang lebih kecil. 

Kendati harga kedelai belakangan sedang naik, namun tidak semahal dengan harga di beberapa tahun yang lalu. Menurut, harga kedelai sempat menyentuh di harga Rp 11.300 per kilogram. 

"Ya mungkin tiga tahun lalu, harganya sempat sampai Rp 11.300 an. Mau tidak mau ya ditipisin lagi tempenya," sambungnya.

Selain memproduksi tempe kedelai, Suharni juga memproduki tempe bungkil yaitu tempe yang khas dari Malang. Tempe ini banyak peminatnya di beberapa kalangan terutama dari warga Malang. 

Selanjutnya, hala senada juga disampaikan oleh perajin tempe lainnya di Desa Penarukan yaitu Satuni. Kenaikan harga tempe sudah terjadi sejak tahun baru 2026. 

Baca juga: Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Sanan Malang Khawatir Tembus Rp15 Ribu per Kilo

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved