Ramadan di Embong Arab Malang Tak Seramai Dulu, Pembeli Kurma Turun Drastis
Sore menuju magrib di kawasan Embong Arab Kota Malang, Kamis (12/3/2026), terasa berbeda dari Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.
Penulis: Benni Indo | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Pengunjung kawasan Embong Arab Malang turun drastis pada Ramadan 2026, sekitar 60 persen dibanding tahun sebelumnya.
- Penurunan diduga akibat melemahnya daya beli masyarakat.
- Meski kurma tetap dijual, bumbu masakan khas Jazirah Arab justru masih diminati untuk menu berbuka dan sahur.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Sore menuju magrib di kawasan Embong Arab Kota Malang, Kamis (12/3/2026), terasa berbeda dari Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya. Lalu lintas yang biasanya padat oleh kendaraan pemburu kurma dan rempah jazirah arab kini tampak lebih lengang.
Deretan toko tetap buka seperti biasa, namun arus pengunjung tidak seramai yang diharapkan para pedagang. Di dalam Toko Amanah, Ahmad Soni berdiri di balik etalase sambil sesekali memandang ke arah jalan.
Karyawan toko itu sedang menunggu pelanggan yang datang. Menurut Soni, Ramadan kali ini terasa lebih sepi. Jumlah pengunjung yang datang ke kawasan Embong Arab turun drastis.
“Perbandingannya 100 banding 40. Kalau tahun lalu pengunjungnya 100, sekarang sekitar 40 saja,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Ia memperkirakan penurunan jumlah pembeli mencapai sekitar 60 persen dibanding Ramadan sebelumnya. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat.
“Sepertinya karena kondisi ekonomi yang lagi sulit,” katanya.
Baca juga: Meski Harga Naik, Kurma Mesir Masih Jadi Favorit Warga Malang Selama Ramadan 2026
Padahal, menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya kawasan Embong Arab mulai ramai sejak pertengahan Ramadan.
Pengunjung biasanya berdatangan untuk membeli kurma, roti, hingga bumbu masakan khas jazirah arab untuk hidangan berbuka atau persiapan Lebaran.
Namun tahun ini, meski Ramadan sudah memasuki 10 hari terakhir, lonjakan pengunjung belum juga terlihat.
“Saya dulu sampai tidak sempat istirahat karena pembeli datang terus. Kalau pun istirahat ya saat salat saja. Sekarang malah banyak rehatnya,” tutur Soni sambil tersenyum tipis.
Di etalase toko, berbagai jenis kurma masih tersusun rapi. Salah satu yang dijual adalah kurma Medjoul yang didatangkan dari Palestina. Meski tetap ada pembeli, jumlahnya tidak sebanyak Ramadan sebelumnya.
Sebaliknya, bumbu masakan khas Jazirah Arab justru masih cukup dicari. Banyak pembeli yang datang untuk mencari racikan rempah untuk membuat menu berbuka dan sahur di rumah.
Bumbu untuk hidangan seperti Nasi Briyani, Nasi Kebuli, dan Nasi Mandhi termasuk yang paling diminati. Penjualannya bahkan meningkat jika dibandingkan hari biasa di luar Ramadan.
| Parade Oklik Semarakkan Malam 29 Ramadan di Bojonegoro, 1.100 Obor Dinyalakan |
|
|---|
| PDI Perjuangan Kota Malang Buka Posko Mudik 24 Jam, Tersedia Tempat Ibadah hingga Ngopi Gratis |
|
|---|
| Kisah Pengusaha Kue Kering di Malang Panen Untung Jelang Lebaran, Omzet Tembus Puluhan Juta |
|
|---|
| Gubernur Khofifah Belanja Bandeng Kawak di Pasar Bandeng Gresik: Rekomendasi Pemudik |
|
|---|
| Ramadan 2026, Omzet Pedagang Pasar Pon Trenggalek Naik hingga 50 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Ahmad-Soni-menunjukan-kemasan-bumbu-khas-jazirah-arab.jpg)