Hobi Melukis Dokter Spesialis Anak Jadi Jalan Sunyi Bantu Pasien

Hobi melukis yang ditekuni Kurniawan Taufiq Kadafi bukan sekadar pelarian dari rutinitas sebagai dokter spesialis anak.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Alga W
Tribun Jatim Network/Benni Indo
LUKISAN - dr Kurniawan Taufiq Kadafi SpA(K), Biomed menunjukan lukisan karyanya. Dari lukisan tersebut, ia dapat membantu keluarga pasien secara diam-diam. 
Ringkasan Berita:

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Ruang Instalasi Rawat Inap IV di Rumah Sakit Saiful Anwar, Kota Malang, begitu ramai oleh celoteh anak-anak.

Di salah satu ruangnya, anak-anak duduk seperti di dalam kelas mendengarkan seseorang bercerita di hadapan mereka.

Baca juga: Beredar Dokumen Calon Karyawan KDKMP, Kades di Jombang Akui Tak Pernah Dilibatkan Proses Rekrutmen

Di ruang lain, juga ada anak-anak yang harus mendapatkan perawatan.

Di antara rutinitas anak-anak, dokter spesialis anak, Kurniawan Taufiq Kadafi tampak sedang bekerja sebagaimana pekerjaannya setiap hari.

Selain sebagai seorang dokter spesialis, Kadafi (sapaan akrabnya) punya kegemaran melukis.

Lukisannya ada di lorong ruangan para dokter berkantor.

Ketekunannya melukis tersebut telah membawanya membantu orang tua, tidak dari sisi medis, tapi dari sisi yang lain.

Hobi melukis yang ia tekuni bukan sekadar pelarian dari rutinitas sebagai dokter spesialis anak.

Melainkan juga jembatan sunyi untuk membantu pasien-pasiennya.

"Kalau itu hobi ya, pulang kerja itu jadi refreshing," ujarnya sambil tersenyum ringan. 

Kecintaannya pada dunia lukis ternyata berakar dari masa kecil yang sederhana.

Saat itu, keinginan untuk memiliki alat lukis tak pernah benar-benar terpenuhi.

Kini, ia dapat memenuhi keinginan untuk memiliki peralatan melukis.

"Sebenarnya sejak kecil, cuma seperti dendam masa lalu. Dulu tidak bisa beli cat air," ungkapnya, Selasa (12/5/2026).

Waktu berjalan, hingga pada 2018, ia justru belajar teknik melukis dari anaknya sendiri.

Dari situlah perjalanan dimulai pelan, sederhana, namun kemudian berubah menjadi candu kreatif.

Berbekal rasa penasaran, ia mulai mencari referensi di media sosial, mencoba berbagai teknik, hingga mengenal dunia urban sketching, sebuah gaya menggambar yang menangkap suasana tempat secara langsung dan detail.

Melukis, baginya, bukan sekadar menggambar objek, tetapi juga cara menyimpan memori.

"Kalau kita gambar, kita jadi tahu detail tempat itu. Jadi lebih memorabilia," ujarnya.

Kesibukan sebagai dokter tidak menjadi penghalang.

Justru di sela waktu-waktu yang dianggap sepele, seperti menunggu di bandara atau di dalam pesawat, ia menemukan ruang untuk berkarya.

"Hanya 15 menit selesai. Kadang di bandara menunggu, saya gambar. Kalau belum selesai, dilanjut di pesawat," katanya.

Bagi Kadafi, melukis adalah bentuk penyaluran.

Seperti halnya orang lain yang berkebun atau berolahraga, ia memilih kertas dan warna sebagai ruangnya.

Justru dari goresan-goresan tersebut membawa makna yang lebih besar.

Dari pameran ke aksi sosial

Titik balik terjadi saat ia mengikuti pameran dalam sebuah kongres Ikatan Dokter Anak di Padang pada 2023.

Awalnya, lukisan-lukisan tersebut hanya dipajang sebagai karya pribadi, kemudian dibawa ke Padang untuk dipamerkan.

Hingga sebuah pertanyaan sederhana terbesit dalam pikirannya: mengapa tidak dilelang?

"Saya pikir kenapa tidak dilelang. Uangnya buat sosial," ujarnya.

Dari sana, karya-karyanya mulai memiliki dua nilai.

Pertama, sebagai bentuk apresiasi terhadap seni.

Kedua, sebagai sarana membantu pasien, terutama mereka yang membutuhkan biaya tambahan di luar jangkauan layanan kesehatan.

Harga lukisan pun beragam, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Beberapa bahkan terjual hingga Rp5 juta.

"Nilainya ada dua, pertama karya dihargai, kedua, bisa bermanfaat bagi yang lain," katanya.

 

Suatu ketika, Kadafi harus mengirim sebuah sampel ke Universitas Gadjah Mada.

Ada kebutuhan untuk analisis genetik.

Biaya untuk kebutuhan tersebut tidak dibebankan kepada orang tua, tapi dibayar melalui lukisannya yang terjual.

"Nilainya Rp1,6 juta waktu itu," katanya.

Sebagai dokter yang bertugas di ruang intensif, Kadafi terbiasa berhadapan dengan banyak kondisi pasien.

Namun, ia memilih pendekatan yang lebih dari sekadar medis, ia merawat dengan empati.

"Pasien anak itu saya anggap seperti anak saya sendiri," tuturnya.

Interaksi yang intens dengan pasien dan keluarga membuat hubungan itu terasa lebih personal.

Dalam situasi seperti itulah ia melihat realita, bahwa biaya kesehatan bukan satu-satunya tantangan. 

Ada kebutuhan lain yang seringkali tidak terbantu, dan di situlah ia merasa perlu berbuat lebih.

Melalui lukisan, ia menemukan jalannya hingga kegiatan itu masih terus berjalan sampai sekarang.

Bahkan, ia kembali dilibatkan dalam berbagai pameran yang juga berorientasi sosial.

Namun yang menarik, ia tidak selalu mengumumkan secara terang-terangan tujuan di balik karyanya.

"Ya itu sudah bagian dari misi kami. Diam-diam pokoknya dibantulah," ujarnya.

Dalam dunia yang seringkali riuh oleh pencitraan, Kadafi memilih jalan berbeda yakni berkarya dalam diam dan membantu tanpa pamrih.

Kini, lukisan tidak sekadar karya seni lukis, tapi juga telah menjadi sebuah harapan untuk bisa membantu yang lain.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved