Pengamat Ekonomi UMM Sebut Pelemahan Rupiah Berdampak ke Semua Lapisan Masyarakat
pelemahan Rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga terutama ketergantungan Indonesia pada bahan impor
Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS dinilai berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat.
- Harga komoditas berbahan impor seperti kedelai berpotensi naik dan memengaruhi produk tahu tempe.
- Masyarakat diminta lebih bijak mengelola keuangan dan mengurangi penggunaan paylater.
Laporan Wartawan TribunJati.com, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah malang, Yunan Syaifullah meyakini bahwa pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang.
Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Humas Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan menjelaskan pelemahan Rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor.
“Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, sehingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal," ungkapnya, Senin (18/5/2026).
Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal.
"Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Pelemahan Rupiah ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat," tegasnya.
Baca juga: Rupiah Melemah, Produsen Tempe di Sanan Kota Malang Sebut Harga Kedelai Naik Tipis
Dampak Pelemahan Rupiah Dinilai Menyeluruh
Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak.
"Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap Dollar seperti gawai. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko," jelas Yunan.
Di tengah ancaman pelemahan Rupiah ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan.
"Kebiasaan masyarakat hobi pay later ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita," tambahnya.
Yunan mendorong masyarakat untuk melihat fenomena pelemahan Rupiah ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global.
"Sekarang anak muda bisa mempelajari keahlian digital dan membangun pekerjaan sampingan sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau penulis. Keahlian yang bisa menghasilkan pendapatan Dollar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah," urainya.
Sementara itu, Pemkot Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat dinilai belum berdampak signifikan terhadap kebutuhan pokok masyarakat di Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi.
Menurut Eko, perputaran ekonomi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak bergantung pada impor, masih berjalan normal.
“Kalau melihat kebutuhan masyarakat sehari-hari yang tidak terkait ekspor-impor, saya kira masih normal. Kebutuhan pangan dan pokok di Kota Malang masih aman,” ujarnya.
Meski demikian, Eko tidak menampik bahwa komoditas berbasis impor tetap berpotensi mengalami kenaikan harga seiring pelemahan Rupiah. Ada beberapa bahan impor yang masuk ke Kota Malang seperti kedelai.
“Kalau barang impor, pasti ada pengaruh. Biasanya harga akan naik karena nilai tukarnya berubah,” katanya.
Kondisi ini terutama dirasakan pada komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri, seperti kedelai yang menjadi bahan baku produk tempe dan tahu.
Dalam menyikapi potensi kenaikan harga tersebut, Eko mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk impor, terutama bagi pelaku usaha kecil.
“Kita tidak bisa intervensi harga dari daerah. Yang bisa dilakukan adalah lebih bijak dalam menggunakan barang impor, terutama untuk kebutuhan usaha,” jelasnya.
Ia mencontohkan pelaku usaha olahan kedelai seperti tempe, keripik tempe, hingga kuliner berbasis tempe perlu menyesuaikan strategi produksi agar tetap bertahan. Meski ada potensi tekanan harga, Eko memastikan konsumsi tempe di Kota Malang masih tergolong baik dan stabil.
“Kebutuhan tempe di Malang masih bagus. Masyarakat masih mengonsumsi setiap hari. Saya makan tempe hari ini,” ujarnya.
Eko meyakini, selama kebutuhan pokok masyarakat masih dipenuhi dari sumber lokal, dampak pelemahan Rupiah dapat diminimalkan di tingkat daerah.
Rupiah anjlok
Rupiah
Rupiah Melemah
berita malang hari ini
Multiangle
TribunJatim.com
Tribun Jatim
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
| Rupiah Melemah, Produsen Tempe di Sanan Kota Malang Sebut Harga Kedelai Naik Tipis |
|
|---|
| Dubes Yaman Temui Gubernur Jatim Khofifah, Bahas Kerja Sama Pendidikan hingga Perdagangan |
|
|---|
| Puluhan Kali Umrah, Aktor Senior Cerita Kehilangan Sandal di Masjid Teguran agar Tak Sombong |
|
|---|
| Kekayaan dan Isi Garasi Muhadjir Effendy, Penasihat Khusus Presiden Dipanggil KPK Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Kabaddi Kabupaten Kediri Borong 2 Medali Perak di Kejurprov Jatim 2026, Modal Kuat Menuju Porprov |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Pengajar-ekonomi-pembangunan-Universitas-Muhammadiyah-malang-Yunan-Syaifullah.jpg)