Rupiah Melemah, Produsen Tempe di Sanan Kota Malang Sebut Harga Kedelai Naik Tipis
Harga kedelai di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang, terpantau masih relatif stabil meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Penulis: Benni Indo | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Harga kedelai di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang, masih stabil di angka Rp 10.500 per kilogram selama sekitar satu bulan terakhir.
- Pelaku usaha menilai kenaikan harga kedelai masih tergolong kecil dan belum berdampak signifikan terhadap aktivitas perdagangan maupun produksi tempe dan tahu
- Mayoritas kedelai masih berasal dari impor Amerika Serikat sehingga harga dalam negeri tetap rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Harga kedelai di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang, terpantau masih relatif stabil meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.
Pemilik UD Sumber Rejeki, Yudhi, menyebut harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp 10.500 per kilogram dan telah bertahan selama sekitar satu bulan terakhir.
“Sekarang Rp 10.500, sudah sekitar sebulan. Sebelumnya di kisaran Rp 10.200 sampai Rp 10.300,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Yudhi menilai kenaikan harga yang terjadi masih tergolong kecil dan belum berdampak signifikan terhadap aktivitas perdagangan.
Ia menyebut, sirkulasi penjualan kedelai di tempatnya juga masih stabil. Setiap hari, stok yang diputar mencapai sekitar 6 ton.
“Naiknya tidak banyak, masih wajar. Kurang lebih 6 ton per hari, masih stabil, tidak ada penurunan,” jelasnya.
Menurut Yudhi, stabilitas harga kedelai tidak lepas dari pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag).
Baca juga: Dampak Produksi Kedelai Ponorogo Terus Turun, Industri Tempe Tahu Bergantung Impor Meski Harga Mahal
Ia mengatakan petugas rutin melakukan pemantauan harga di lapangan.
“Setiap hari ada yang keliling, cek harga,” ujarnya.
Meski tidak mengetahui secara detail mekanisme pengendalian harga, Yudhi meyakini keberadaan pengawasan tersebut membuat harga di tingkat produsen tetap terkendali.
“Produsen juga jadi tidak berani menaikkan harga,” katanya.
Yudhi mengungkapkan, sebagian besar kedelai yang dipasarkan masih berasal dari impor, khususnya dari Amerika Serikat.
“Dari Amerika, memang mayoritas dari sana,” ujarnya.
Baca juga: 3 Dampak Jika Rupiah Tembus Rp20.000 per Dollar AS, Ekonom Ungkap Penyebab
| Pengamat Salahkan Prabowo yang Sebut Rakyat Desa Tak Pakai Dolar: Bapak Dibohongi Orang-orang Bapak |
|
|---|
| Rupiah Melemah ke Level Terendah Lagi, sempat Tembus Rp17.600 per Dolar AS |
|
|---|
| Titiek Soeharto Apresiasi Panen Raya Kedelai Nganjuk, Lampaui Rata-rata Produksi Nasional |
|
|---|
| Sinergi TNI dan Kementan, Panglima TNI hingga Mentan Hadiri Panen Raya Kedelai 100 Hektar di Nganjuk |
|
|---|
| Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.500, DPR Wanti-wanti: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Pekerja-mengangkat-sekarung-kedelai-di-UD-Sumber-Rejeki-Senin-1852026.jpg)