Sejarah Peringatan Maulid Nabi di Indonesia, Bermula dari Wali Songo
Perayaan Maulid Nabi merupakan wujud kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.
TRIBUNJATIM.COM - Bulan Rabiul Awwal dikenal juga sebagai Bulan Maulid Nabi.
Sebab pada bulan ini dalam penanggalan Hijriyah, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal.
Kata maulid berasal dari bahasa Arab, yang berarti hari lahir.
Menurut sejarah, perayaan Maulid Nabi dirayakan oleh bangsa Arab sejak abad ke-2 H atau abad ke-8 M.
Sejak itu, perayaan Maulid Nabi mulai berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
Perayaan Maulid Nabi merupakan wujud kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Baca juga: Bacaan Maulid Barzanji, Sholawat Al-Fatih dan Munjiyat di Bulan Maulid Nabi 2025
Maulid Nabi di Indonesia bermula dari Wali Songo
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Wali Songo sejak 1404 M.
Tujuan Wali Songo merayakan Maulid Nabi adalah untuk menarik hati masyarakat setempat saat itu untuk terpanggil memeluk agama Islam.
Pada saat itu, Wali Songo melihat pengorbanan yang dilakukan Raja Hindu di Jawa telah melanggar aturan Islam.
Dalam tradisi Hindu-Buddha pada masa itu, jika suatu daerah terkena bencana mereka akan melakukan pengorbanan berupa penyembelihan kerbau sebagai tolak bala.
Hal ini yang kemudian mendorong Wali Songo memperkenalkan peringatan Maulid Nabi pada masyarakat setempat.
Itulah mengapa, Maulid Nabi juga disebut sebagai perayaan Syahadatain, atau yang secara umum dikenal dengan istilah Sekaten.
Syahadatain adalah kesaksian dan pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan Rasul Allah.
Lebih lanjut, dari berbagai macam versi, pada dasarnya sekaten dapat dipahami sebagai upacara dan ritual penabuhan gamelan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rabiul Awwal
Bulan Maulid Nabi
Wali Songo
Maulid Nabi
Tribun Jatim
TribunJatim.com
jatim.tribunnews.com
| Jatim Terpopuler: Bupati Tulungagung Terjerat OTT KPK hingga Imbas Harga Plastik ke PKL Lamongan |
|
|---|
| Atasi Kelangkaan, Pemkab Lumajang Tetapkan Harga Elpiji 3 Kg di Pengecer Maksimal Rp20 Ribu |
|
|---|
| Musim Panen Tiba, Petani di Saradan Madiun Semringah Harga Gabah Tembus Rp7.500 per Kg |
|
|---|
| Gubernur Tangani Langsung Kasus Perawat Senior ASN yang Nyaris Bikin Bayi Tertukar di RSHS |
|
|---|
| Bupati Tulungagung Terjerat OTT KPK, Pemprov Jatim Buka Suara: Kami Turut Prihatin |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/sejarah-peringatan-Maulid-Nabi-di-Indonesia.jpg)