Berita Viral
Geramnya Warga Gerebek Duda yang Sering Bawa Gadis ke Rumahnya
Insiden ini terjadi di Perumahan Griya Fatmawati RT 07, Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau, Sumsel.
Lantas, sejak kapan istilah kumpul kebo dikenal dan bagaimana sejarah penggunaannya di tengah masyarakat Indonesia?
Sejarah Istilah Kumpul Kebo
Melansir jurnal “Students’ Perception of the Criminalization of Cohabitation (Kumpul Kebo) in Indonesia”, istilah kumpul kebo berakar dari gabungan dua kata, yakni koempoel yang berarti berkumpul dan gebouw berarti bangunan atau rumah dalam bahasa Belanda.
Pada mulanya, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi beberapa orang yang tinggal atau berkumpul di bawah satu atap, tanpa memuat makna moral tertentu.
Dalam proses penyerapan bahasa, kata gebouw mengalami perubahan pelafalan di kalangan masyarakat lokal.
Pelafalan yang sulit diucapkan kemudian bergeser menjadi “kebo”, sehingga istilah koempoel gebouw lambat laun dikenal sebagai “kumpul kebo”.
Perubahan fonetik ini terjadi secara alami dalam praktik bahasa sehari-hari.
Seiring waktu, makna istilah tersebut mengalami pergeseran.
Kumpul kebo tidak lagi sekadar dipahami sebagai aktivitas tinggal bersama, melainkan mulai digunakan untuk merujuk pada pasangan laki-laki dan perempuan yang hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah.
Pergeseran makna ini membuat istilah kumpul kebo memperoleh konotasi negatif dalam norma sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Dalam perkembangan masyarakat modern, istilah kumpul kebo tetap digunakan dan dikenal luas sebagai bagian dari kosakata sehari-hari.
Para peneliti memandang perubahan makna ini sebagai proses sosiolinguistik, yakni pergeseran arti kata yang dipengaruhi oleh nilai moral, agama, dan hukum yang berkembang di masyarakat.
Secara garis besar, penggunaan istilah kumpul kebo dapat dilihat melalui dua tahap perkembangan.
Tahap awal berkaitan dengan penggunaan istilah koempoel gebouw yang bersifat deskriptif terhadap kondisi tinggal bersama dalam satu bangunan.
Tahap berikutnya muncul ketika istilah tersebut dipersempit maknanya untuk menggambarkan praktik kohabitasi pasangan tanpa perkawinan, yang kemudian dilekatkan dengan stigma sosial hingga kini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kumpul kebo dicatat sebagai ragam cakapan bahasa Jawa dengan arti hidup bersama sebagai suami istri di luar pernikahan.
Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com
| Modal Tusuk Gigi, Sindikat Ganjal ATM Kuras Uang Korban Rp 69 Juta |
|
|---|
| Sikap Istri Berubah usai Diangkat Jadi ASN, Semena-mena Hingga Suami Dicerai |
|
|---|
| Pedagang Disuruh Bayar Hingga Belasan Juta Rupiah, Oknum Pentolan Catut Nama Kepala Daerah |
|
|---|
| Juri LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar Dinilai Tak Adil, Jawaban SMAN 1 Pontianak Dianulir Gegara Tak Dengar |
|
|---|
| Imbas DC Prank Damkar untuk Tagih Utang, Pinjol Indosaku Didenda Rp 875 Juta, Sanksi Dianggap Pantas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/rumah-duda-ilustrasi-digerebek-bawa-gadis-pasangan-bukan-suami-istri-ilustrasi-penggerebekan.jpg)