Perang Iran vs Israel Amerika

Posisinya Nyaris Kalah Hadapi Iran, Trump Mengemis Bantuan ke China untuk Rayu Teheran

Posisi Amerika Serikat saat ini dalam keadaan terjepit. Sebab, Presiden Donald Trump kewalahan hadapi Iran.

Tayang:
Editor: Januar
Istimewa/White House
MINTA BANTUAN CHINA - Presiden AS Donald Trump menyapa Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelum pertemuan bilateral di terminal Bandara Internasional Gimhae, Kamis, 30 Oktober 2025, di Busan, Korea Selatan. Pertemuan Trump dengan Xi Jinping kali ini dengan membawa misi khusus, yakni meminta bantuan kepada China untuk bisa membujuk Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Donald Trump dijadwalkan bertemu Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026 untuk membahas perdagangan, konflik Iran, Taiwan, dan hubungan ekonomi AS-China.
  • Trump dinilai berada dalam posisi tawar lemah akibat tekanan domestik, perang dengan Iran, dan naiknya harga energi di AS, sehingga sangat membutuhkan kesepakatan ekonomi dan diplomatik untuk meningkatkan popularitas politiknya

 

TRIBUNJATIM.COM - Posisi Amerika Serikat saat ini dalam keadaan terjepit.

Sebab, Presiden Donald Trump kewalahan hadapi Iran.

Dilansir dari Tribunnews, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dijadwalkan akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026.

Kunjungan yang awalnya dirancang sebagai panggung kekuatan ekonomi AS, kini berubah menjadi misi diplomatik kritis bagi Trump yang tengah terdesak oleh krisis domestik dan luar negeri.
 
Para pengamat politik menilai posisi tawar Trump kali ini berada di titik terendah.

Setahun setelah sesumbar akan melumpuhkan ekonomi China melalui perang tarif, Trump justru datang membawa agenda yang jauh lebih moderat.

Alih-alih restrukturisasi ekonomi besar-besaran, fokus utama Trump kini bergeser pada kesepakatan belanja komoditas seperti kacang kedelai, daging sapi, dan pesawat Boeing.

Baca juga: Sebut Perang Segera Berakhir, Donald Trump Murka Tak Terima Respons Iran soal Proposal Perdamaian

Isu paling krusial dalam pertemuan ini bukanlah perdagangan, melainkan konflik di Timur Tengah.

Dengan tingkat ketidakpuasan publik Amerika yang mencapai 60 persen terhadap perang dengan Iran, Trump sangat membutuhkan "kemenangan cepat" untuk menyelamatkan popularitasnya menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

"Trump seolah-olah lebih membutuhkan China daripada China membutuhkannya," kata Alejandro Reyes, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam kebijakan luar negeri China di Universitas Hong Kong kepada Reuters.

"Dia membutuhkan semacam kemenangan kebijakan luar negeri: kemenangan yang menunjukkan bahwa dia berupaya memastikan stabilitas di dunia dan bahwa dia tidak hanya mengganggu politik global," tambah Reyes.

Sebagaimana diketahui, China merupakan pembeli utama minyak Iran dan memiliki hubungan diplomatik yang stabil dengan Teheran, posisi yang tidak dimiliki oleh AS saat ini.


Bawa Sedikit Orang Penting ke China

Dalam kunjungan kali ini, Trump akan didampingi oleh para CEO, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Apple, Tim Cook.

Rombongan pengusaha yang dibawa Trump kali ini tercatat lebih ramping dibandingkan kunjungan tahun 2017.

Hal ini mengindikasikan sikap hati-hati dunia usaha AS di tengah ketidakpastian hukum terkait kebijakan tarif Trump di pengadilan federal.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved