Berita Viral

Rupiah Melemah ke Level Terendah Lagi, sempat Tembus Rp17.600 per Dolar AS

Rupiah sempat menyentuh level psikologis baru dengan menembus Rp17.600 per dolar AS.

Tayang:
Tribunnews.com
RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi Rupiah. Rupiah sempat menyentuh level psikologis baru dengan menembus Rp17.600 per dolar AS, Jumat (15/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah ditutup melemah di level Rp17.597 per dolar Amerika Serikat, setelah sebelumnya sempat berada di Rp17.529 dan bahkan menyentuh Rp17.600 pada sesi pagi.
  • Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran pasar global.

 

TRIBUNJATIM.COM - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Jumat (15/5/2026) dan ditutup melemah di level Rp17.597 per dolar Amerika Serikat.

Posisi ini turun dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.529 per dolar AS.

Pada sesi perdagangan pagi, rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis baru dengan menembus Rp17.600 per dolar AS sebelum akhirnya sedikit menguat menjelang penutupan pasar.

Pemicu Rupiah Melemah

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, penguatan dolar AS hingga tren suku bunga tinggi. 

"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," katanya, dalam keterangannya.

Menurut dia, pasar global saat ini mencermati ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan AS.

Situasi memanas setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan tersebut. 

Selain itu, insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman dan penahanan sejumlah kapal oleh Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia. 

Ibrahim menuturkan, kondisi itu membuat harga minyak dunia naik dan mendorong investor memburu aset safe haven berupa dollar AS.

"Di sisi lain, ekspektasi bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi juga memperkuat indeks dollar AS," ucapnya.

Baca juga: Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.500, DPR Wanti-wanti: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.400, Produsen Kendang Jimbe di Blitar Menjerit Biaya Produksi Bengkak 30 Persen

Pasar Domestik Libur Panjang

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut, pelemahan rupiah semakin terasa karena pasar domestik sedang libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus yang berlanjut cuti bersama dan akhir pekan, sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya bisa dilakukan di pasar internasional. 

"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," jelasnya.

Ibrahim memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Ada kemungkinan besar BI akan menaikkan suku bunga 25-50 basis point untuk menyetabilkan rupiah," katanya. 

Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, karena mayoritas kepemilikan obligasi pemerintah masih didominasi investor domestik.

Artikel sebelumnya telah tayang di Kompas.com

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved