Berita Viral
Penyebab Rupiah Tembus Rp17.900 per Dollar AS Menurut Analis Mata Uang
Rupiah turun ke level Rp17.919 per dollar Amerika Serikat. Analis mata uang menjelaskan faktornya.
Selain itu, Iran juga menunjukkan sikap yang semakin tegas terhadap Israel.
Hingga saat ini Israel masih melanjutkan operasi militernya di wilayah Lebanon Selatan, yang membuat ketegangan kawasan semakin meningkat.
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap inflasi global.
Kenaikan biaya energi akan mendorong naiknya biaya transportasi dan logistik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga berbagai barang konsumsi.
“Harga BBM dan gasoline di Amerika Serikat terus mengalami kenaikan. Kondisi ini berpotensi membuat inflasi tetap tinggi dan mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan menaikkan suku bunga kembali,” katanya.
Pernyataan Presiden Federal Reserve (The Fed), Cleveland Beth Hammack, juga menunjukkan adanya peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.
“Salah satu pejabat Federal Reserve, Beth Hammack, mengatakan bahwa bank sentral perlu bertindak apabila tren inflasi tidak menunjukkan penurunan. Ini mengindikasikan bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun 2026,” pungkas dia.
Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih kuat juga dinilai memperkuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Baca juga: Kata Purbaya soal Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Sebut APBN Aman Tak Perlu Hitung Ulang
Kenaikan Harga Minyak Dunia
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan dollar AS untuk berbagai keperluan, termasuk impor energi.
“Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dollar meningkat, terutama untuk impor minyak. Selain itu, kebutuhan dollar untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo juga cukup besar,” lanjutnya.
Pemerintah juga menghadapi tantangan terkait pembayaran utang yang jatuh tempo.
Namun menurut dia, praktik penerbitan utang baru untuk membayar utang lama bukanlah hal baru dalam pengelolaan fiskal.
“Perlu dipahami bahwa mekanisme pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo merupakan praktik yang sudah berlangsung sejak lama. Jadi tidak bisa langsung dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa,” katanya.
Selain itu, Ibrahim menilai masyarakat juga mulai memindahkan sebagian dananya ke instrumen yang dinilai lebih aman, sehingga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Mengenai langkah yang dapat ditempuh pemerintah untuk memperkuat rupiah, Ibrahim menilai stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama.
Nilai tukar rupiah
Dollar Amerika Serikat
Amerika Serikat
Rupiah Melemah
Tribun Jatim
TribunJatim.com
jatim.tribunnews.com
| 10 SPBU Rugi Ulah Remaja Isi Bensin Sekaligus Minta Tarik Tunai, Bukti Transfer Ternyata Palsu |
|
|---|
| Sosok Camat Ogah Tanda Tangani Berkas Warga untuk Keperluan Pengadilan, Minta Maaf usai Viral |
|
|---|
| Sosok Mayjen Trenggono, Perwira TNI yang Ditunjuk Presiden Prabowo Jabat Wakil Kepala BGN |
|
|---|
| Penyebab Dadan Hindayana Dicopot Presiden Prabowo dari Kepala BGN, Mensesneg Singgung Disiplin |
|
|---|
| Sosok dan Karir Moncer Nanik S Deyang Kepala BGN Baru Gantikan Dadan yang Dicopot Prabowo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Dollar-mata-uang-rupiah-dan-dolar-Amerika-Serikat-di-tempat-penukaran-uang-asing-Bank-indonesia.jpg)