Berita Viral

Penyebab Rupiah Tembus Rp17.900 per Dollar AS Menurut Analis Mata Uang

Rupiah turun ke level Rp17.919 per dollar Amerika Serikat. Analis mata uang menjelaskan faktornya.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
RUPIAH ANJLOK - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. Rupiah turun ke level Rp17.919 per dollar Amerika Serikat atau Rupiah terdepresiasi 80,50 poin atau 0,45 persen. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik, Rabu (3/6/2026). 

Pemerintah juga perlu memperkuat sektor riil melalui percepatan industrialisasi dan pengembangan ekonomi biru guna meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

“Kita harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Produktivitas sektor-sektor utama seperti pertanian juga harus terus ditingkatkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” ungkap Ibrahim.

Ia menilai penguatan sektor riil menjadi tantangan yang tidak mudah karena investasi saat ini masih relatif lemah.

Padahal, selain konsumsi rumah tangga, investasi merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Rupiah Anjlok Lagi Hari Ini, Peluang Tembus ke Angka Rp18 Ribu Per Dolar AS Terbuka Lebar

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan percepatan pengentasan kemiskinan untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Selain itu, transformasi digital dan perbaikan iklim investasi juga dinilai menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah.

Menurut Ibrahim, penyederhanaan regulasi investasi yang selama ini menjadi agenda berbagai pemerintahan masih menghadapi banyak kendala di lapangan.

“Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Joko Widodo, penyederhanaan regulasi investasi selalu menjadi agenda utama. Namun dalam praktiknya, proses perizinan masih sering memakan waktu sangat lama,” katanya.

Ibrahim mengaku mengalami langsung lamanya proses perizinan secara daring yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

“Saya merasakan sendiri proses perizinan secara online bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan, bahkan dalam beberapa kasus bisa lebih lama. Hal-hal seperti ini perlu segera dibenahi agar iklim investasi menjadi lebih kompetitif dan investor asing tertarik masuk ke Indonesia,” kata Ibrahim.

Percepatan reformasi birokrasi dan penyederhanaan proses perizinan menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik investasi Indonesia di tengah ketatnya persaingan global.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved