Jatimpedia

Daftar Wilayah Perlu Waspada saat Puncak Kemarau 2026, Warga Sampang Punya Cara Ampuh Bertahan

BMKG memprediksi puncak kemarau berlangsung bertahap di berbagai wilayah Indonesia.

Tayang:
Istimewa
MUSIM KEMARAU - Ilustrasi memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi puncak kemarau berlangsung bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Juli akan mulai dirasakan di sejumlah daerah, sementara Agustus menjadi periode dengan cakupan wilayah terdampak paling luas. Dampak yang perlu diantisipasi meliputi berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan kering, Rabu (10/6/2026). 

Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak, menjaga kondisi kesehatan saat cuaca panas, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru yang disampaikan BMKG melalui kanal resmi.

Baca juga: Penyebab Suhu Dingin di Surabaya saat Malam Hari, BMKG Sebut Suhu Mencapai 26 Derajat Celcius

Cara Unik Warga Sampang Bertahan dari Kekeringan Musim Kemarau

Di sisi lain, warga di Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur memiliki cara unik untuk bertahan dari kekeringan di musim kemarau.

Cara unik ini dilakukan oleh warga Desa Tragih, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Madura.

Cara itu sederhana tapi cukup ampuh untuk mendapatkan air bersih meski dalam jangka pendek.

Caranya adalah menggali lubang di tepi sungai yang keruh. Sekilas, pemandangan itu tampak aneh.

Sungai di desa tersebut hanya menyisakan gubangan kecil yang berair hijau, penuh lumut, dan tak layak konsumsi. 

Tetapi bagi warga, sungai tetaplah sumber harapan.

Mereka menggali lubang sedalam satu meter dengan diameter setengah meter di samping gubangan itu. 

Tak lama kemudian, air jernih merembes keluar layaknya mata air alami.

Air hasil saringan tanah kemudian digunakan warga untuk mandi, mencuci, hingga kebutuhan dapur.

“Sudah lama kami pakai cara ini. Kalau harus beli air tangki, banyak warga yang tidak sanggup,” kata Hoiruddin (30), warga setempat, Selasa (26/8/2025), seperti diberitakan TribunJatim.com.

Harga air tangki memang cukup mahal, mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu untuk 6.000 liter. 

Bagi sebagian besar keluarga, jumlah itu memberatkan, sehingga cara menggali lubang jadi solusi yang lebih masuk akal.

Meski unik dan membantu, cara ini tidak bertahan lama karena jika kemarau semakin panjang dan gubangan sungai benar-benar mengering.

Warga tak punya pilihan selain membeli air bersih.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved