Berita Terpopuler

Bola Terpopuler: Target PSSI di Piala Dunia 2030 Hingga Tendangan Kungfu Alberto

Berita menarik dimulai dari tendangan kungfu Alberto, pemain jebolan Timnas U-17 Indonesia. Selanjutnya ada PSSI target lolos ke Piala Dunia 2030.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
kolase/Tribun Jatim dan istimewa
BOLA TERPOPULER: Target PSSI di Piala Dunia 2030 hingga tendangan kungfu Alberto, pemain jebolan Timnas U-17 Indonesia. 

Dalam sambutannya, Zainudin Amali menyampaikan terima kasih pada tujuh klub pendiri PSSI.

Yaitu VIJ Jakarta (Persija), BIVB Bandung (Persib), PSM Mataram (PSIM), VVB Solo (Persis), MVB Madiun (PSM Madiun), IVBM Magelang (PPSM), dan SIVB Surabaya (Persebaya). 

"Perjalanan klub-klub pendiri luar biasa hingga sampai saat ini PSSI Ada," kata Zainudin Amali.

Ia menjelaskan bahwa awal mula pendirian PSSI bantuk persatuan anak bangsa.

"Maknanya, sebagai masyarakat sepak bola harus bersatu. Bertarung dan bertanding hanya 90 menit. Setelah itu kembali bersatu," terangnya.

Oleh karena itu ia berharap sepak bola bisa menyatukan, bukan lantas terpecah belah gara-gara sepak bola.

"Kalau terpecah belah, sudah menyalahi prinsip dasar lahirnya PSSI. Itu benar-benar makna persatuannya ada," ucapnya.

Tidak lupa ia menyampaikan terima kasih pada para legenda yang membawa prestasi terbaik Timnas Indonesia di masanya.

"Mudah-mudahan prestasi semakin baik dari timnas kita semua usia. Mimpi kami di 2030 nanti timnas bisa masuk ke piala dunia," pungkas Zainudin Amali.

Sementara, Ratu Tisha Destria berharap dukungan semua pihak untuk bisa mencapai cita-cita besar ini.

"Tentu PSSI tidak bisa bekerja sendirian, sehingga harus bersinergi dengan banyak pihak, pemerintah, swasta, dan pihak lainnya," kata Ratu Tisha Destria.

"PSSI sebagai lokomotif penggerak sepak bola Indonesia, tidak bisa bergerak sendiri, jadi di momen ulang tahun ini kami ingin mengajak semua pihak untuk bekerja bersama-sama, sesuai tema tahun ini, membangun sepak bola Indonesia," tambahnya.

Terpisah, mantan pemain Timnas Indonesia yang juga hadir, Evan Dimas Darmono, memiliki harapan tersendiri.

"Saya berharap ke depannya PSSI memiliki program, dimana menanamkan ke generasi bagaimana caranya berjiwa kesatria. Dimana bumi dipijak, amanah dijalankan. Dimana bumi dipijak, kejujuran dijalankan," kata Evan Dimas.

Sementara, mantan pemain Timnas lainnya, Arief Suyono lebih menyinggung soal pembinaan usia dini.

Baginya tujuan besar lolos Piala Dunia 2030 bisa ditopang dengan pembinaan yang baik.

"Mudah-mudahan ulang tahun ke-96, terutama lolos piala dunia. Selanjutnya supaya bisa lebih baik di grassroot ," terang Arief Suyono.

"Karena kami sekarang terlalu fokus di timnas senior, tapi kami lupa di grassroot. Karena tombaknya senior itu ada di grassroot. Lebih diperhatikan lagi di grassroot," pungkasnya (amn).

Ego pemain Real Madrid disorot

Para pemain bintang Real Madrid mendapat sindiran dari Steve McManaman, mantan punggawa Los Blancos.

Real Madrid tersingkir dari Liga Champions 2025-2026 dan hanya mencapai perempat final usai disingkirkan oleh Bayern Munich.

Los Blancos menyerah dari raksasa Jerman dengan agregat 4-6.

Bahkan Madrid tak pernah menang dalam dua kali pertarungan melawan Muenchen.

Leg pertama, Madrid keok 1-2 di kandang.

Kemudian anak-anak asuh Alvaro Arbeloa menyerah 3-4 saat gantian menyambangi Allianz Arena.

Baca juga: Real Madrid Tersingkir dari Liga Champions, Vinicius Jr Ngamuk Ditegur Jude Bellingham

Baca juga: Daftar 5 Kandidat Pelatih Disusun Real Madrid untuk Gantikan Arbeloa, Juru Taktik AC Milan Muncul

Pemain Top Berlagak Bos Besar

Padahal skuad Madrid berisikan barisan pemain top seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan masih banyak lagi.

Namun, mereka tetap saja tak bisa menaklukkan Eropa.

Menurut analisa Steve McManaman, kegagalan Madrid di Liga Champions dikarenakan para pemain bintangnya merasa 'besar'.

Dia menilai hal tersebut memengaruhi performa tim.

"Para pemain adalah bos di Real Madrid," kata McManaman seperti dikutip dari Diario Sport, via BolaSport.com.

"Pemain memiliki kekuatan yang luar biasa."

"Saya pikir itulah inti permasalahannya," ujar gelandang Madrid periode 1999-2003 itu.

Lagi-lagi menurut McManaman, sebesar apapun seorang pemain, seharusnya tunduk terhadap pelatih yang notabene memegang kendali tim.

Akan tetapi, situasi di Madrid justru anomali.

"Arne Sloth adalah bos di Liverpool, Pep Guardiola merupakan bos di Manchester City. Akan tetapi, para pemain adalah bos di Real Madrid,” tutur McManaman.

Baca juga: Rencana Cuci Gudang Bak Sinyal Real Madrid Bentuk "Los Galacticos" Baru

Tantangan Ego Pemain

Madrid berada dalam era Los Galacticos saat McManaman bermain.

Kala itu, Madrid dipenuhi pemain bintang macam Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo Luis Nazario, dan lain-lain.

Main bareng pesepak bola besar tentu bukan perkara mudah bagi McManaman.

Dia harus menghadapi pemain-pemain dengan ego besar.

Kendati sulit, McManaman terap bisa meraih prestasi.

McManaman meninggalkan Estadio Santiago Bernabeu usai meraih dua gelar Liga Champions, dua kali juara LaLiga, satu Piala Super Spanyol, dan satu Piala Super Eropa.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved