Risma Bicara Kerukunan di Surabaya: Bukan Menang-menangan, tapi Kebersamaan
Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, membeberkan pengalamannya dalam menangani organisasi kemasyarakatan (ormas) di Surabaya
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Ndaru Wijayanto
Ringkasan Berita:
- Tri Rismaharini menekankan bahwa menjaga kerukunan dan ketertiban kota harus menggabungkan ketegasan dengan dialog yang berlandaskan kemanusiaan.
- Selama menjabat Wali Kota Surabaya, Risma memilih pendekatan komunikasi langsung, bahkan saat menghadapi penolakan dan kekerasan dalam penertiban.
- Ia kerap turun langsung ke lapangan, termasuk menghadapi ormas dan menjaga ketertiban demi mencegah pelanggaran hukum dan sosial.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Koloway
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA — Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPP PDI Perjuangan Tri Rismaharini sekaligus mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, membeberkan pengalamannya dalam menangani organisasi kemasyarakatan (ormas) di Surabaya.
Hal ini disampaikan Risma saat menjawab pertanyaan peserta acara Pandu Negeri Public Lecture, Sabtu sore (17/1/2026).
Menurut Risma, kunci utama menjaga ketertiban kota bukan hanya ketegasan, tetapi juga komunikasi yang berlandaskan kemanusiaan dan peradaban. Hal ini harus dikombinasikan dengan tidak meninggalkan salah satunya.
Risma mengungkapkan, sejak awal menjabat Wali Kota Surabaya, dirinya memilih pendekatan dialog langsung, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Ia mengisahkan pengalamannya saat menghadapi penolakan hingga tindakan kekerasan saat menertibkan kawasan publik.
"Jadi mungkin karena saya perempuan ya, jadi saya mesti dudukkan komunikasi,” ujar Risma yang juga mantan Wali Kota Surabaya dua periode ini.
Ia mencontohkan peristiwa penertiban fasilitas umum. Dirinya pernah dilempari batu oleh pihak yang menolak penertiban.
Baca juga: Isi 4 Kesepakatan Damai Armuji dan Madas Sedarah, Bukan Hanya Cabut Laporan
Namun, Risma memilih tetap duduk dan berbicara langsung dengan mereka.
"Niat saya baik untuk majukan Bapak Ibu. Kalau ini enggak boleh, ya kita ngomong enggak boleh. Tapi kita komunikasi. Itulah yang disebut tata peradaban kota,” tegasnya.
Risma menekankan, ketegasan pemerintah kota tidak boleh menghilangkan aspek dialog. Ia mengaku tak jarang berada di garis depan saat menghadapi ormas yang hendak melakukan aksi penyerbuan ke tempat hiburan malam.
Bahkan, ia datang langsung ke lokasi hingga larut malam demi memastikan tidak ada pelanggaran, termasuk eksploitasi anak. Pendekatan serupa juga dilakukan Risma dalam penanganan persoalan lingkungan dan ketertiban warga.
Selain itu, Risma mengingatkan pentingnya solidaritas warga dalam menjaga stabilitas kota. Terutama, saat Surabaya menghadapi situasi krisis, mulai dari kerusuhan massa, terorisme, hingga bencana.
“Ini bukan menang-menangan, ini bukan kalah-kalahan. Tapi ini adalah kebersamaan. Kalau kota ini nyaman, maka akan nyaman ditinggali semua,” kata mantan Menteri Sosial ini.
Risma menutup dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk anak muda dan ormas, untuk tidak saling menyalahkan. Menurutnya, keamanan dan kenyamanan kota adalah tanggung jawab bersama.
“Enggak bisa kita ngomong ‘ini urusan lu, ini urusan gue’. Ini urusan kita bersama. Kalau kita bangun bersama, insyaallah kota ini akan nyaman untuk ditinggali,” kata Risma
| Tatap Pemilu 2029, PDI Perjuangan Lamongan Lantik Pengurus PAC Baru: Fokus Regenerasi Gen Z |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.600 dan IHSG Ambruk, Menkeu Purbaya: Engga Apa-apa Nanti Kita Perbaiki |
|
|---|
| Tagihan Hotel Rp22 Juta Tak Dibayar, Wagub Babel Hellyana Kini Divonis 4 Bulan Penjara |
|
|---|
| Forum Koperasi Desa Merah Putih Bondowoso Protes, Keluhkan Lambatnya Pembangunan Gerai Koperasi |
|
|---|
| Fenomena Hewan Unta di Mojokerto, Juru Sembelih Unta di Indonesia Masih Langka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Risma-Bicara-Kerukunan-di-Surabaya-Bukan-Menang-Menangan.jpg)