Fenomena Gen Z Enggan Jadi Manajer, Ini Dampaknya bagi Perusahaan

Fenomena ini menjadi perbincangan di media sosial dan tren global, hingga berdampak pada perusahaan. Sebab, hal ini membuat kekosongan kepemimpinan.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Torik Aqua
Tribun Jatim Network/Sulvi Sofiana
FENOMENA - Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin. 

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Elsye merekomendasikan perusahaan menerapkan pendekatan Individual Contributor (IC) guna menciptakan keseimbangan antara kontribusi dan insentif yang diterima karyawan.

Ia menekankan pentingnya sistem kompensasi berbasis kinerja dan kontribusi, tanpa harus memaksa karyawan menerima jabatan manajerial demi kenaikan gaji.

“Jangan memaksa karyawan yang kompeten untuk menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji, namun hadirkan sistem kompensasi yang didasarkan atas kinerja, kontribusi, atau prestasi. Mengingat Gen Z sangat menghindari pekerjaan administrasi, lakukan otomatisasi dengan bantuan kemajuan teknologi,” tegas Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya tersebut.

Lebih lanjut, ia menilai transformasi juga perlu dilakukan pada level pimpinan tertinggi perusahaan. Kepemimpinan yang empatik, menurutnya, perlu dibentuk melalui pelatihan agar peran manajemen bergeser dari pengawas menjadi fasilitator.

Elsye juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pimpinan dan karyawan.

Menurutnya, Gen Z tidak hanya ingin menerima perintah, tetapi juga didengar dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

“Ciptakan komunikasi dua arah karena Gen Z tidak hanya ingin diperintah, namun juga didengar. Mereka lebih termotivasi bila pendapat mereka dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved