Fenomena Gen Z Enggan Jadi Manajer, Ini Dampaknya bagi Perusahaan
Fenomena ini menjadi perbincangan di media sosial dan tren global, hingga berdampak pada perusahaan. Sebab, hal ini membuat kekosongan kepemimpinan.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Torik Aqua
Ringkasan Berita:
- Gen Z memandang jabatan manajerial sebagai beban.
- Fenomena ini berpotensi memicu kekosongan kepemimpinan dan krisis suksesi.
- Perusahaan disarankan menerapkan skema individual contributor dan kepemimpinan empatik.
TRIBUNJATIM.COM - Posisi manajerial kini sedang dihindari oleh Generasi Z alias Gen Z.
Fenomena ini menjadi perbincangan di media sosial dan tren global, hingga berdampak pada perusahaan.
Sebab, hal ini membuat kekosongan kepemimpinan.
Hingga potensi krisis suksesi perusahaan di masa depan.
Baca juga: 35 Contoh Soal Latihan Tes PPPK Teknis 2023 Kemampuan Manajerial, Dilengkapi dengan Kunci Jawabannya
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menjelaskan bahwa dalam dunia manajemen fenomena ini dikenal sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management.
Menurutnya, bagi Gen Z, jabatan manajerial bukan lagi dipandang sebagai prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima.
“Bagi Gen Z, menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” jelas Elsye pada TribunJatim.com, Senin (23/2/2026).
Ia mengungkapkan, dalam jangka pendek fenomena ini dapat menyebabkan kekosongan kepemimpinan serta meningkatnya angka pengunduran diri karyawan pada level manajer menengah.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis suksesi kepemimpinan di level atas perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga berisiko mengalami tekanan finansial karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk rekrutmen eksternal dan pelatihan.
Dampak lain yang mungkin terjadi adalah penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya “jembatan” yang menghubungkan visi strategis dengan eksekusi teknis di dalam perusahaan.
“Dapat terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis dalam perusahaan,” paparnya.
Fenomena ini juga berdampak pada kualitas lingkungan kerja.
Ketergantungan yang tinggi terhadap manajer senior berpotensi memicu kelelahan kerja (burnout), yang dalam jangka panjang dapat melemahkan fondasi manajerial organisasi.
| Harta Kekayaan dan Isi Garasi Wabup Tulungagung Ahmad Baharudin, Sempat Disebut Wabup Termiskin |
|
|---|
| Polres Ponorogo Gerebek Judi Sabung Ayam dan Dadu, Pelaku Lari Tunggang Langgang |
|
|---|
| Anak Artis Tolak Warisan Rp 212 Miliar Milik Mendiang Ibunya karena Harus Bayar Pajak Rp 117 Miliar |
|
|---|
| Tak Sanggup Beri Mahar Rp 250 Juta, Wanita Lampung Nyamar Jadi Pria Demi Lamar Gadis Sinjai |
|
|---|
| Tiap Hari Jalan Kaki Dagang Arang dan Bertani, Mbah Siti Akhirnya Bisa Naik Haji setelah Punya Tanah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Dosen-Manajemen-Fakultas-Bisnis-dan-Ekonomika-Ubaya-Dr-Elsye-Tandelilin.jpg)