Rupiah Melemah hingga Kenaikan Harga Bahan Baku Jadi Hambatan Industri Farmasi Jatim Sepanjang 2018

Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia Jawa Timur menyatakan ada dua hal yang menyebabkan kondisi industri farmasi terhambat sepanjang 2018.

Rupiah Melemah hingga Kenaikan Harga Bahan Baku Jadi Hambatan Industri Farmasi Jatim Sepanjang 2018
TRIBUNJATIM.COM/DAVID YOHANES
Kasi Farmasi dan Perbekalan Dinkes Tulungagung, Masduki, saat memeriksa makanan, Senin (10/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia Jawa Timur menyatakan ada dua hal yang menyebabkan kondisi industri farmasi terhambat sepanjang 2018.

Ketua GP Farmasi Indonesia Jawa Timur, Philips Pangestu menyebut, dua hal itu ialah tren melemahnya rupiah diikuti kenaikan harga bahan baku.

Pasalnya, sejauh ini 99 persen bahan baku farmasi mayoritas diperoleh dari impor seperti Tiongkok, India, Eropa, Amerika, dan Australia.

"Karena Indonesia memang belum memiliki teknologi mumpuni untuk memproduksi bahan baku yang dibutuhkan," ujarnya, Minggu (16/12/2018).

Dia mengatakan, saat tren rupiah yang terus melemah memberi dampak tersendiri terhadap industri farmasi terutama pada harga bahan baku yang ikut naik.

"Belum lagi banyak perusahaan di Tiongkok saat ini tutup karena sedang direnovasi pabriknya," katanya.

Akibatnya, lanjut dia, suplai bahan baku ke industri farmasi Indonesia berkurang dan berdampak pada kenaikan harga jual.

Digelar 5 Hari, Indonesia Sharia Economic Festival 2018 Munculkan Kesepakatan Bisnis Senilai Rp 7 T

"Di Jatim mau tidak mau ikut menaikkan harga jual. Kalau secara nasional kenaikan harga jual bisa tembus dua sampai lima kali lipat, sedangkan Jatim tidak sampai segitu," jelasnya.

Sebab, dikatakan Philips, pihaknya mempertimbangkan daya beli masyarakat yang sedang menurun sehingga penyesuaian harga tersebut diambil rata-rata harga bahan baku lama ditambah bahan baku baru.

"Ya meski begitu, industri farmasi di Jatim masih tumbuh 5-6 persen, tetapi profit kami agak terganggu alias ada penurunan karena faktor itu tadi," katanya.

Target Menangkan Jatim 70 Persen, Surya Paloh Klaim Pakde Karwo Dukung Jokowi-Maruf

Pihaknya berharap pada 2019 nanti industri farmasi di Jatim bisa lebih baik dari sekarang sekaligus ingin dukungan penuh dari pemerintah terutama dalam hal kestabilan rupiah.

Sebab, kata Philips, saat ini banyak pengusaha farmasi yang telah menyuplai ke e-katalog menjadi resah.

"Ini sedang kami ajukan revisi harga namun masih belum ada feedback dari pemerintah," pungkasnya.

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved