BPOM Jatim : Konsumsi Makanan Mengandung Tawas Berbahaya Bagi Kesehatan

Terkait Penggerebekan Industri Rumahan di Sidoarjo, BPOM Jatim : Konsumsi Makanan Mengandung Tawas Berbahaya Bagi Kesehatan.

BPOM Jatim : Konsumsi Makanan Mengandung Tawas Berbahaya Bagi Kesehatan
TRIBUNJATIM.COM/KUKUH KURNIAWAN
Pelaku Berinisal D (Memakai Baju Hitam) Dan Seorang Karyawannya Ketika Memeragakan Proses Produksi Makanan Ringan. 

TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Badan Pengawasan Obat Dan Makanan ( BPOM) Jawa Timur mengatakan konsumsi makanan yang mengandung tawas berbahaya bagi kesehatan.

Staff Bidang Penindakan BPOM Jawa Timur, Veronika mengatakan tawas sebenarnya dilarang dan juga bukan termasuk dalam bahan tambahan pangan.

"Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No. 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Dimana tawas tak termasuk bahan tambahan pangan," ujarnya kepada awak media, usai rilis Penindakan Industri Rumahan Makanan Ringan Mengandung Tawas Di Sidoarjo Bersama Polda Jatim Serta Disperindag Provinsi Jatim, Kamis (14/03/2019).

BPK Dorong BPOM untuk Mampu Permudah Pelaku UMKM Peroleh Nomor Izin Beredar

Khofifah Bakal Dekatkan Layanan BBPOM di Bakorwil, Madura Jadi Prioritas Utama

Ia mengatakan tawas bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih akan merugikan kesehatan.

"Dapat mengganggu sistem pencernaan. Tidak hanya itu juga dapat merusak ginjal dan hati," tambahnya.

BBPOM Surabaya Ajak Masyarakat Kenali Ciri Keamanan Obat Herbal dan Jamu Tradisional

Sebelumnya, Polda Jatim gerebek industri rumahan makanan ringan menggunakan bahan baku tawas dan penyedap rasa kedaluarsa.

Dir Reskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan mengatakan industri rumahan bernama UD. Davis tersebut beroperasi tak memiliki ijin baik segi industri dan pangan.

"Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, ternyata diketahui industri makanan ringan jenis pilus tersebut ditemukan memakai bahan berbahaya dalam produksinya. Yaitu tawas serta bahan perasa yang telah kedaluarsa," jelasnya kepada awak media, Kamis (14/03/2019).

Ia menjelaskan tawas sendiri biasa dikenal sebagai bahan untuk menjernihkan air.

Ahmad menambahkan perusahaan yang terletak di Desa Tanjungsari RT 21 RW 03 Taman, Sidoarjo ini telah berdiri selama tiga tahun. Dan memiliki omset hingga Rp 300 juta per bulan.

"Kita akan melakukan pengecekan distribusi makanan ringan karena diketahui wilayah pemasarannya Jawa Timur. Dan kita akan berkoordinasi dengan dinas untuk melakukan penarikan makanan ringan tersebut," tambahnya.

Pihaknya pun mengatakan telah menetapkan tersangka berinisial D. Yang merupakan pemilik perusahaan.

"Untuk pasal yang disangkakan ada dua. Yaitu pasal 120 UU No. 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian dengan ancaman pidana 5 tahun serta pasal 142 UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan dengan pidana 2 tahun," bebernya.

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved