Berhasil Antar Kemenangan Khofifah, Dwi Astutiek Nyaleg dari PPP
Dwi Astutiek. Wanita yang saat kampanye Pilgub 2018 mendampingi Khofifah sebagai juru bicara tim pemenangan Khofifah-Emil ini maju sebagai caleg dari
Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Setelah berhasil memenangkan Pilgub 2018, sejumlah orang di lingkaran Khofifah Indar Parawansa maju mencalonkan diri sebagai calon legislatif.
Diantaranya Dwi Astutiek. Wanita yang saat kampanye Pilgub 2018 mendampingi Khofifah sebagai juru bicara tim pemenangan Khofifah-Emil ini maju sebagai caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Ia mencalonkan diri sebagai caleh DPRD Jawa Timur dengan daerah pemilihan Kota Surabaya.
Dwi mengaku memutuskan maju sebagai caleg selain termotivasi untuk memberikan manfaat hidup lebih pada masyarakat juga karena diberi amanah khusus dari Khofifah.
"Saya mengukur diri saya yakin mempunyai massa, punya potensi, saya sebagai praktisi, saya tahu kebutuhan masyarakat. Selain itu saya juga dapat amanah khusus beliau untuk mengawal nawa bhakti satya supaya bisa berjalan maksimal," kata Dwi, pada TribunJatim.com, Selasa (23/10/2018).
• Habis Rp 303 Triliun, China Resmi Operasikan Jembatan Terpanjang di Dunia Sepanjang 55 Kilometer
Setelah lama menjadi praktisi, Dosen Universitas Sunan Giri Surabaya, mengaku ingin masuk ke dunia kebijakan. Sebab sejauh ini pengalamannya kebijakan publik saat ini belum maksimal.
"Maka kami berharap dengan masuk ke dunia kebijakan, bisa memperbaiki apa yang saat ini belum maksimal. Khususnya di bidang pendidikan," kata wanita yang juga dengan menjabat sebagai Ketua Forum Taman Baca Jatim ini.
Lebih lanjut Dwi mengatakan visinya untuk maju sebagai caleg DPRD Jatim adalah memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat. Terutama yang menyangkut pendidikan dan ekonomi.
Dengan menjadi timses gubernur twrpilih lalu, Dwi Astutiek mengaku sudah mengetahui peta pendidikan dan kemiskinan di Jatim.
"Di Madura salah satunya, IPM di sana sangat rendah. Di Sampang Bangkalan dan Pamekasan, termasuk di Probolinggo dan Jember. Pendidikan di sana butuh dikuatkan," kata doktor yang mengambil disertasi tentang pembedayaan masyarakat di Sampang ini PADA TribunJatim.com.
Di Surabaya, dikatakan Khofifah kemiskinan di perkotaan juga membutuhkan perhatian. Yang ada di Wonocolo, Bendul Merisi dan juga di kawasan utara Surabaya.
• Kurir 1 Kg Sabu Diganjar 15 Tahun Penjara Oleh Hakim PN Sidoarjo
Lebih lanjut, Dwi mengatakan ada sejumlah fokus perhatian di pendidikan yang akan ia perjuangkan saat jadi legislator nanti. Untuk di PAUD, dikatakan Dwi, butuh pengembatan dan penguatan.
PAUD adalah embrio bagaimana anak-anak untuk disiapkan sebagai generasi generasi millenial. Bagaimana anak-anak bisa disiapkan untuk cerdas dan siap kerja dan kerja cerdas.
"Nah, dengan adanya alih keweangan PAUD di kota, bukan berarti lalu pemprov lepas tangan. Harus ada peran juga dari pemprov untuk penguatan layanan kelembagaan, peningkatan mutu layanan, peningkatan keualitas guru dan peningkatan kesejahteraan guru di paud. Di Nawa bhakti satya, saat ini sudah disiapkan," kata wanita yang juga masuk dalam Tim Navigasi untuk transisi Khofifah-Emil ini.
Tak hanya PAUD, Dwi mengaku juga memiliki misi program peningkatan di jenjang pendidikan menangah khususnya SMK dan Madrasah. Dikatakan Dwi anak-anak SMK butuh disiapkan kerja sama dengan dunia kerja.
Menurut Dwi saat ini perannya masih kurang. Lulusan SMK banyak yang tidak terserap sehingga butuh ada kebijakan di ranah perundangan untuk bisa memberikan akses peningkatan kualitas mutu pendidikan SMK.
"Padahal di Jatim ada ribuan jumlahnya perusahaan tapi konsentrasi penyaluran CSR ke dunia pendidikan itu kurang. Maka perlu ada aturan Pergub yang jelas supaya uang CSR bisa maksimal tersalurkan ke dunia pendidikan," tegas caleg nomor urut 1 ini.
Bukan SMK saja, termasuk di pendidikan SMA dan madrasah aliyah yang siap masuk ke perguruan tinggi. Ke depan ia ingin agar bisa terfasilitasi dari dana CSR.
Berikutnya yang ingin diperjuangkan Dwi Astutiek adalah perhatian untuk anak-ank disabilitas. Menurutnya butuh perhatian serius dari pemerintah. Setiap kabupaten kota di Jawa Timut harus ada sekolah yang menyediakan porsi untuk anak-anak disabilitas.
"Di Jatim, belum semua kabupaten kota itu ada. Harapan ke depan untuk anak-anak kebutuhan khusus bisa terlayani. Kalaupun ada aturan saat ini harus ada penguatan dan pengawasan khusus," tegasnya pada TribunJatim.com.
• Awas, Parkir Sembarangan di Surabaya Mulai November Bakal Kena Denda Rp 500 Ribu
Memanfaatkan masa kampanye panjang Dwi mengaku sudah mulai start menjalankan tim untuk turun ke masyarakat. Ia gerilnya ke setiap pengajian dannkomunitas tertentu.
Jaringannya di Muslimat sebagai Wakil Sekretaris Muslimat Jawa Timur dan 30 tahun aktif di organisasi perempuan NU itu, diyakini akan efektif ikut mencapai target 120 ribu suara di Surabaya ini.
"Fatayat juga akan menjadi sekmen yang ikut gerak. Komunitas literasi anak muda yaitu taman masyarakat di surabaya juga akan kami gerakkan," katanya.
Door to door campaign menjadi satu strategi yang akan dilakukan hingga April 2019 mendatang.
Ia mengatakan sebelumnya ia mencalonkan diri sebagai DPD, namun gagal. Kini ia juga ganti partai, jika sebelumnya maju lewat PKB, maka tahun ini ia maju lewat PPP.
Pilihan pindah partai itu dikatakan Dwi adakah keputusan bulat. Selain PPP juga menjadi parpol pengusung Khofifah-Emil, ia juga mengatakan dengan nyaleg dari PPP adalah proses kembali ke rumah.
"Nyaleg dari PPP seperti kembali ke rumah, rumah kita ka'bah. Saya melihat PPP adalah partai Islam yang kuat haluan Asjawa-nya, PPP adalah partai yang asasnya Islam dan ideologi Pancasila," kata Dwi.(Fatimatuz zahroh/TribunJatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-dwi-astutiek-caleg-ppp_20181023_193449.jpg)