Sutrisno Bachir Sarankan Milenial Muhammadyah Untuk Berwirausaha

Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia (Kein), Sutrisno Bachir mengajak generasi muda Muhammadiyah Lamongan agar mencintai duni

Sutrisno Bachir Sarankan Milenial Muhammadyah Untuk Berwirausaha
Surya/hanif manshuri
Sutrisno Bachir di Lamongan, Jumat (15/03/2019) 

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia (Kein), Sutrisno Bachir mengajak generasi muda Muhammadiyah Lamongan agar mencintai dunia wirausaha.

Sebab, majunya bangsa Indonesia, tidak lepas dari peran masyarakat yang mengembangkan usahanya, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa.

"Tanpa berwirausaha, dipastikan bangsa akan semakin tertinggal," kata Sutrisno Bachir Dialog Ekonomi Umat dengan tema Memperkuat UMKM dan Generasi Milenial Muhammadiyah Untuk Indonesia Maju di Lamongan, Jumat (15/3/2019).

Apa yang diungkapkan Sutrisno diimbangi dengan memberikan contoh beberapa negara seperti, Cina, Jepang dan negara lainnya.

"Negara itu sangat maju karena masyarakat disana lebih mengembangkan dunia kewirausahaan dan industri, ketimbang harus bekerja di instansi pemerintah. Negara berkembang, Cina, Jepang mereka masyarakatnya lebih suka berwirausaha," jelasnya.

Dihadapan para undangan, khususnya pada para mahasiswa Sutrisno Bachir mengajak berwirswasta.

"Umat Islam banyak tapi yang wirswasta kecil. Padahal agama Islam mengajarkan, tapi tidak dipraktikkan," ungkapnya.

Muhammadiyah pernah memperjuangkannya pada zaman kepemimpinan Din Syamsuddin, termasuk amal usaha kesehatan.

Sutrisno Bachir membeberkan syarat membangun peradaban yang maju diantaranya, masayakat harus punya nilai nila spiritual, mempunyai jiwa kewirausahaan, mempunyai jiwa profesional, harus menguasai Iptek, dan menguasai pasar dunia.

"Makanya Muhammadiyah mendirikan Majelis Ekonomi," katanya.

Mantan Ketua PAN Sutrisno Bachir Turun Gunung Ingin Jadi AC, Terang - Terangan Dukung Jokowi

40 Orang Tewas dan 20 Orang Terluka, Aksi Penembakan Umat Muslim di Masjid Selandia Baru

Wirausaha tidak ada batasannya. Tapi banyak mahasiswa yang cenderung ingin menjadi pegawai negeri.
Bahkan Sutrisno mencontohkan dirinya sampai harus menolak tawaran Jokowi untuk menjadi menteri.
Pada 2014 ia mendukung Jokowi - JK dan pernah dipanggil Jokowi diminta menduduki jabatan menjadi menteri.

"Saya membantu bapak saja," katanya kala itu.

Ia menolak jabatan menteri karena jadi menteri tidak boleh bisnis. Dan ada teman Sutrisno yang menjabat menteri, bisnisnya jadi anjlok karena tidak bisa dilakukannya sendiri.

"Pikiran saya saat itu menolak menjadi menteri, karena saya ingin mengembangkan usaha. Kalau saya tinggal, usaha yang sudah saya rinitis puluhan tahun pasti tidak akan berkembang," katanya..

Ada beberapa pertimbangan saat itu, ia ingin mengembangkan karena dengan berwirausaha maka paling tidak ia dapat berkontribusi terhadap bangsa. Dan tidak harus menjadi seorang menteri.

Sutrinso mengajak dan mencontoh negara Cina dan Jepang yang begitu pesat menjadi negara Industri.
KEIN memberikan jalan diantaranya Agrobisnis, optimalkan soal maritim karena banyak kekayaan di dalamnya, termasuk gas di dalam lautan.

Kemudian sektor pariwisata, industri milenial (internet). Berwirausaha bisa dimulai sejak muda atau SMA.
Sebagai bentuk sportifitas, Sutrisno memberi bantuan Rp 50 untuk koperasi mahasiswa.

Ia berharap, Muhammadiyah harus menjadi lokomotif perubahan bangsa. Karena Muhammadiyah SDM cukup bagus.

"Kalau Muhammadiyah dengan NU mengurus perjuangan ekonomi, Indonesia akan maju," katanya.

Ia menilai Muhammadiyah dan NU masih menjadi penonton. Ekonomi dan politik harus profesional.

"Ingin menjadi pemain utama, bukan penonton," katanya.(Hanif Manshuri/Tribunajtim.com)

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved