Temuan Batu Bata Kuno & Serpihan Tengkorak di Jombang, BPCB Trowulan Sebut Pemukiman Era Majapahit

Temuan Batu Bata Kuno & Serpihan Tengkorak di Jombang, BPCB Trowulan Sebut Pemukiman Era Majapahit.

Temuan Batu Bata Kuno & Serpihan Tengkorak di Jombang, BPCB Trowulan Sebut Pemukiman Era Majapahit
SURYA/SUTONO
Arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Mojokerto saat mengecek temuan batu bata kuno di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, Diwek, Jombang 

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Temuan benda kuno berupa tumpukan batu bata hingga serpihan tengkorak manusia yang ditemukan warga saat menggali pasir di Dusun Kedaton Desa Bulorejo, Diwek, Jombang, diduga merupakan permukiman era kerajaan Majapahit.

Hal ini diungkapkan Arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Wicaksono Dwi Nugroho, setelah mengecek lokasi temuan bersama Bidang Kebudayaan Pemkab Jombang, Sabtu (22/6/2019).

Bertemu Ulama Jatim di Tebuireng Jombang, Panglima TNI Kisahkan Kerusuhan 21-22 Mei

Temuan Potongan Kaki Manusia di Jombang Tidak Berada dalam Wilayah Tol Jomo

Jelang Putusan MK, PMII Jombang Tolak Pengerahan Massa, Cegah Kerusuhan Kembali Terjadi

Dijelaskannya, dari hasil pengecekan sementara, Wicaksono mengatakan, batu bata tersebut tidak seperti batu bata pada umumnya. Batu bata tersebut berukur cukup besar dengan ketebalan 5-6 sentimeter, lebar 21 sentimeter, dan panjang 31 sentimeter.

Tumpukan batu bata yang membentang arah barat ke timur dengan panjang 100 meter ini, ditemukan di kedalaman 160 sentimeter. “Kami ke lapangan, dan kami temukan struktur batu bata 11 lapis, punya ketebalan 67 sentimeter,” bebernya.

Tidak jauh dari lokasi penemuan tumpukan batu bata yang membentuk struktur menyerupai dinding itu, juga sempat ditemukan tumpukan batu bata serupa pada 2016 lalu.

Jarak dari lokasi penemuan tumpukan batu bata di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, dengan penemuan 2016 lalu, hanya sekitar 100 meter. Tepatnya berlokasi di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Hasil pengamatan sementara Arkeolog BPCB Trowulan, kedua temuan tersebut diduga kuat sebagai kompleks permukiman penduduk pada era kerajaan Majapahit pada abad 13-14.

Selain bentuk batu bata yang diartikan mirip dengan temuan-temuan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dugaan bahwa itu kompleks pemukiman Majapahit juga diperkuat adanya temuan benda-benda keramik yang diduga tembikar buatan era Majapahit.

Untuk saat ini, pihak BPCB Trowulan, selanjutnya akan meneliti kembali hasil dari pengecekan di lokasi penemuan tumpukan batu bata. Ini guna memastikan bentuk asli dari temuan tersebut.

“Akan kami ploting dengan temuan yang di Sugihwaras, dan kami akan tarik batas-batas sebarannya. Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang guna upaya-upaya pelestarian,” bebernya.

Diketahui, tumpukan batu bata kuno itu kali pertama ditemukan di area persawahan di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, oleh warga setempat, Suwandi (49).

Lokasi penemuan merupakan tempat galian pasir yang dulunya lahan persawahan.

Suwandi menuturkan, tumpukan batu bata merah itu ditemukan saat dia menggali pasir bersama teman kerjanya tiga bulan lalu atau tepatnya pada bulan Maret 2019.

“Waktu itu menggali pasir. Barang atau batu-batanya itu berada di bawah pasir. Bentuknya seperti tembok memanjang begitu,” terangnya

Penulis: Sutono
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved