Kisah Kamas Setiyoadi, Pejuang Kemerdekaan dari Mojokerto, Pimpin Laskar Kucing Hitam Perang Gerilya
Kisah Kamas Setiyoadi, Pejuang Kemerdekaan dari Mojokerto, Pimpin Laskar Kucing Hitam Perang Gerilya.
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Sudarma Adi
Kisah Kamas Setiyoadi, Pejuang Kemerdekaan dari Mojokerto, Pimpin Laskar Kucing Hitam Perang Gerilya
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Kamas Setiyoadi, merupakan putra daerah yang lahir di Jalan Raya Brangkal Nomor 1, desa Kedungmaling, kecamatan Sooko, kabupaten Mojokerto, (28/9/1926).
Kamas Setiyoadi lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat biasa, namun dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan.
Ketika wartawan TribunJatim.com menemui rumahnya di alamat tersebut pada Jumat siang (23/8/2019), suasana historis begitu terasa saat memasuki ruang tamu.
• Santri Senior Ponpes Mambaul Ulum Mojokerto Jadi Tersangka, Hasil Otopsi Tengkorak Korban Pecah
• BREAKING NEWS: Diduga Kena Percikan Mesin Las, Pabrik Paku di Mojokerto Hangus Terbakar
• Banyak Mobil yang Parkir di Jalur Sepeda Ganggu Pesepeda, Ini Keluhan Warga Kota Mojokerto
Meskipun, beberapa atap rumah, lapuk termakan usia. Tak lupa, beberapa foto Kamas Setiyoadi, dengan seragam lengkap tentara tempo dulu, tertancap di ruang tamu dan ruang makan
Salah satu anak Kamas Setiyoadi, Sri Astuti (58), bersama ibunya, Amanah (83), berjalan dengan tongkat bantuan, datang membawa beberapa arsip tentang ayahnya.
Seperti album foto, daftar riwayat hidup, pas foto, dan beberapa sertifikat lama keputusan menteri panglima angkatan darat tahun 1969 yang ditunjukan di depan rekan media. Dokumen dokumen tersebut terlihat menguning karena dimakan usia.
Beberapa sampul dan foto Kamas Setiyoadi, luntur dan sobek ketika dibuka oleh Sri Astuti. Teksturnya yang semakin tipis akibat dimakan rayap, membuat album tersebut tambah rusak.
Meski beberapa foto ada yang hilang, di dalam album itu menampilkan perjalanan Kamas Setiyoadi selama menempuh pendidikan militer.
Serta, foto bersama teman dan keluarganya tak lupa ditampilkan dengan tambahan tulisan tangan dari Kamas yang rapi dan tak mengalami luntur apapun.
Sri Astuti menceritakan, Ayahnya merupakan sosok yang keras dan disiplin ketika sedang berada di rumah. Sehingga, sosok almarhum ditakuti bagi anak anaknya.
"Perjuangan bapak untuk memperebutkan kemerdekaan sangat kuat sekali. Bapak berani mati dalam mengorbankan nyawa, sampai bapak tidak pulang ke rumah," kenang Sri Astuti, Jumat (23/8/2019).
Sri Astuti menambahkan, selama memperjuangkan kemerdekaan, almarhum ayahnya berperan sebagai pemimpin dalam laskar kucing hitam di Mojokerto.
Melalui laskar tersebut, almarhum ayahnya, berperang secara gerilya dan masuk mengambil senjata tentara belanda dari markas ke markas.
Bahkan, lanjut Sri Astuti, selama melakukan perlawanan, almarhum ayahnya memiliki kemampuan kesaktian yang membuat tentara belanda lari terbirit birit
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/kamas-setiyoadi-dengan-pakaian-militernya.jpg)