Raih Predikat Kinerja Terbaik I, Ini yang Dilakukan Pemkab Trenggalek untuk Menangani Stunting

Kabupaten Trenggalek meraih Peningkat Kinerja Terbaik I dalam program percepatan pencegahan stunting terintengrasi Provinsi Jawa Timur

Raih Predikat Kinerja Terbaik I, Ini yang Dilakukan Pemkab Trenggalek untuk Menangani Stunting
ISTIMEWA/TRIBUN JATIM
Perwakilan Pemkab Trenggalek menerima plakat Peningkat Kinerja Terbaik I dalam program percepatan pencegahan stunting terintengrasi Provinsi Jawa Timur 21 Agustus lalu. 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Kabupaten Trenggalek meraih Peningkat Kinerja Terbaik I dalam program percepatan pencegahan stunting terintengrasi Provinsi Jawa Timur pada 21 Agustus lalu.

Capaian itu membuktikan keseriusan kabupaten yang berada di sisi selatan Pulau Jawa itu dalam mencegah stunting di wilayahnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jatim, Vitria Dewi, mengatakan, penilaian itu untuk aksi keempat dari total delapan aksi percepatan pencegahan stunting di Jatim.

“Di antara 12 kabupaten lokus stunting yang dipantau, Kabupaten Trenggalek memang yang kinerjanya paling bagus,” kata Vitria.

Hari Terakhir Pengusulan Nama Wakil Bupati Trenggalek, Satu Partai Masih Belum Tanda Tangan

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja percepatan pencegahan stunting. Indikator itu, kata Vitria, dapat menentukan secara cermat atas langkah-langkah yang diambil tiap pemerinah daerah.

Ia berharap,capaian kinerja terbaik di Kabupaten Trenggalek bakal mendorong penanganan stunting yang juga maksimal.
“Kalau kinerjanya lebih terstruktur, sistematis, otomatis penanganannya juga akan lebih bagus,” ungkap dia.

Ada banyak indikator yang dinilai untuk menentukan peringkat kinerja terbaik itu. Antara lain, jumlah organisasi perangkat daerah (OPD) yang turut serta dalam penanganan stunting.

Selain itu, penentuan peringkat kinerja itu juga diukur dengan perencanaan anggaran yang dialokasikan masing-masing pemda untuk menangani stunting.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menjelaskan, salah satu cara untuk menangani stunting di wilayahnya adalah pemberian suntikan dana ke desa-desa lokus stunting.

DPRD Tunggu Usulan Dua Nama Calon Wakil Bupati Trenggalek, Batas Waktu Tinggal Sehari Lagi

“Desa-desa yang menjadi lokus kami beri suntikan dana sekitar Rp 25 juta. Dari 10 desa awal yang menjadi lokus terparah, yang punya prevelensi stunting lebih dari 20 persen, saat ini 5 desa sudah lepas,” kata pria yang akrab disapa Mas Ipin itu.

Setelah ini, menargetkan peluasan suntikan dana untuk 25 desa lokus stunting. Harapannya, penanganan masalah ini bisa menjadi gerakan bersama.

Alokasi anggaran yang digelontorkan Pemkab Trenggalek untuk mengatasi masalah stunting mencapai Rp 103,8 juta pada 2019. Pada tahun depan, alokasi itu ditambah menjadi 114,4 juta.

Selain itu, OPD yang bergerak untuk menangani stunting juga lintas sektor. Setidaknya, sembilan OPD terlibat dalam penanganan masalah tersbut. Masing-masing memiliki peran yang berbeda-beda.

“Targetnya sampai Agustus tahun depan, prevelensi stunting [di semua desa di Kabupaten Trenggalek] tak lebih dari 20 persen,” pungkas Mas Ipin.

(aflahul abidin)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved