Jembatan Apung Kayu Mojokerto, Hubungkan Dua Kabupaten dan Sajikan Pemandangan Gunung Penanggungan

Ribuan warga Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, selalu melewati Jembatan Apung Kayu

Jembatan Apung Kayu Mojokerto, Hubungkan Dua Kabupaten dan Sajikan Pemandangan Gunung Penanggungan
TRIBUNJATIM.COM/FEBRIANTO RAMADANI
Ribuan warga Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, selalu melewati Jembatan Apung Kayu yang menghubungkan beberapa desa di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo. 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Ribuan warga Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, selalu melewati Jembatan Apung Kayu yang menghubungkan beberapa desa di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo.

Panjang jembatan yang mencapai 200 meter, sebagian besar menggunakan kayu mahoni. Di belakangnya ada pemandangan Gunung Penanggungan.

Selain itu, di bawahnya terdapat 200 drum berwarna biru untuk menopang jembatan menjadi lebih kuat menahan derasnya arus sungai Kali Porong.

Anton, (42), warga desa Tambakrejo, kecamatan Krembung, kabupaten Sidoarjo, merasa bermanfaat dengan adanya jembatan dalam keperluanmengantar sembako ke daerah Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto.

"Sering lewat sini mas, rasanya enak daripada lewat Jasem. Terlalu jauh kalau ambil rute memutar, bisa sampai 10 kilometer. Kalau lewat jembatan rutenya cuma 1 kilometer," ungkapnya Minggu siang (1/9/2019).

Polsek Balongbendo Bekuk Pemakai Sabu Asal Mojokerto, Sering Konsumsi Bersama Pemandu Lagu

Pria yang berprofesi sebagai pengusaha toko sembako tersebut, berharap, pemerintah bisa mengembangkan jembatan apung tersebut menjadi lebih baik lagi.

Soleh, (44), warga desa Tambakrejo, kecamatan Krembung, kabupaten Sidoarjo, menuturkan, sebelum adanya jembatan apung kayu, warga menggunakan perahu kayu untuk menyebrang ke tempat tujuannya.

"Jembatan apung kayu dibangun pada 3 tahun yang lalu ini menghubungkan antar desa. Bisa ke Kecamatan Ngoro, Kosek, Japanan, Glatik," katanya Minggu siang (1/9/2019).

Soleh juga menjelaskan, konstruksi jembatan tersebut menggunakan papan kayu bergerai yang ditancapkan dengan paku.

"Kalau tambang pada jembatan apung, menggunakan tali seling sama tali tampar. Supaya jembatan kuat dalam menahan arus Kali Porong yang kuat," jelasnya.

Ekskavasi Bhre Kahuripan Era Majapahit di Mojokerto, BPCB Temukan Batu Andesit hingga Anak Tangga

Jembatan tersebut, lanjut Soleh, telah mengalami kerusakan sebanyak dua kali lantaran tidak kuat menahan aliran arus kali Porong yang kuat. 

"Jembatan ini dibangun oleh warga dari Brebes, Jawa Tengah, yang memiliki usaha di bidang pembangunan. Dengan bantuan tenaga masyarakat sekitar," lanjutnya.

Masih kata Soleh, masyarakat sempat mengajukan bantuan pembangunan jembatan tersebut ke pemerintah kabupaten Mojokerto. Tapi, Soleh belum tahu kelanjutan bantuan pembangunan tersebut.

"Harapannya jembatan apung bisa dikembangkan secara permanen. Karena banyak warga yang lewat di jembatan ini. Baik anak sekolah maupun masyarakat awam," ucapnya.

Masyarakat dikenakan biaya 4000 Rupiah sebagai tiket masuk melintasi jembatan tersebut. Jembatan Apung Kayu merupakan jalur alternatif yang dibuka 24 jam.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved