PKB Menilai Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Terlalu Tinggi

DPP Partai Kebangkitan Bangsa meminta pemerintah mempertimbangkan kembali rencana untuk menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen.

PKB Menilai Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Terlalu Tinggi
Kontan/Muradi
Ilustrasi cukai rokok 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta pemerintah mempertimbangkan kembali rencana untuk menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen.

Ketua DPP PKB Bidang Ketenagakerjaan dan Migran, Dita Indah Sari menilai, kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen tersebut terlalu tinggi.

Kenaikan sebesar itu, menurut Dita Indah Sari , akan berefek domino terhadap pekerja, industri kecil menengah, serta petani tembakau akibat konsumsi rokok yang menurun.

"Kami setuju ada kenaikan cukai, tapi besarannya yang kami tidak setuju. 23 persen itu akan membunuh banyak industri, terutama industri menengah dan kecil. Yang kami harapkan naiknya bisa berkisar 12 sampai 15 persen," ucap Dita Indah Sari saat ditemui dalam forum 'Rembuk Pekerja dan Buruh Tembakau' di Sidoarjo, Minggu (22/9/2019).

Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Gudang Palet di By Pass Krian Sidoarjo Ludes Terbakar

Daftar 5 Makanan yang Ternyata Lebih Buruk dari Rokok, Termasuk Jus Buah hingga Kedelai!

Kenaikan cukai sebesar 12-15 persen, menurut Anggota DPR RI tepat, karena jika dilihat pada tahun 2018 cukai naik sebesar 10,48 persen, sedangkan sigaret kretek tangan (SKT) hanya 8 persen.

"Kalau naik 12-15 persen menurut kami itu tidak terlalu mengejutkan," ucap Dita Indah Sari.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bidang Ketenagakerjaan dan Migran, Dita Indah Sari, Minggu (22/9/2019).
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bidang Ketenagakerjaan dan Migran, Dita Indah Sari, Minggu (22/9/2019). (TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA SAKTI)

Dita Indah Sari sendiri menyadari bahwa pemerintah membutuhkan pemasukan yang lebih besar untuk membiayai keuangan negara dan BPJS yang sedang defisit.

"Tapi ya jangan setinggi itu. Kenaikan cukai dan harga eceran sebesar itu membuat konsumsi rokok pasti akan berkurang drastis. Kalau konsumsi rokok berkurang, maka perusahaan-perusahaan pabrik rokok akan mengurangi tenaga kerja dan akan mengurangi pembelian tembakau dari petani, akibatnya petani tidak laku atau kalaupun laku harganya buruk," ucapnya.

Kronologi Putra Elvy Sukaesih Mengamuk dan Rusak Warung Kelontong, Gara-gara Tak Diutangi Rokok

300 Ton Tembakau Petani Sumenep Mangkrak, Banyak Gudang Pabrik Rokok Batasi Jumlah Pembelian

Ke depannya, DPP PKB akan memperjuangkan pemikiran tersebut melalui parlemen, serta tidak menutup kemungkinan untuk audiensi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Halaman
12
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved