Dengar Suara Gemuruh, Nenek Blitar Hanya Berdiam di Rumah, Saat Mau Keluar Pintunya Tak Bisa Dibuka
Dengar Suara Gemuruh, Nenek Blitar Hanya Berdiam di Rumah, Saat Mau Keluar Pintunya Tak Bisa Dibuka.
Penulis: Imam Taufiq | Editor: Sudarma Adi
Dengar Suara Gemuruh, Nenek Blitar Hanya Berdiam di Rumah, Saat Mau Keluar Pintunya Tak Bisa Dibuka
TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Entah karena kualitas pengerjaannya yang kurang bagus atau ada penyebab lain, proyek plengsengan yang baru selesai dikerjakan bulan Desember ini, ambrol, Senin (16/12) dini hari.
Celakanya, ambrolnya plengsengan yang katanya belum diserahkan ke Pemprov Jatim itu menimpa teras rumah nenek Tumila (62), warga Dusun Sumberjo, Desa Balerejo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.
Meski tak ada korban jiwa, namun kejadian itu jadi atensi semua pihak, di antaranya Camat Wlingi Eka Purwanta, Kompol Purdianto, Kapolsek Wlingi, dan Kapten Kanipan, Danramil Wlingi.
• Amankan Suasana Nataru, Polres Blitar Kota Razia Preman dan Anak Jalanan, Ada yang Pesta Miras
• LINK PDF Hasil Seleksi Administrasi CPNS 2019 Kota Blitar, 668 Orang Tak Lolos, Cek Namamu di Sini!
• Heboh Warga Blitar Temukan Kakek Gantung Diri di Lapangan Sepak Bola, Sebabnya Depresi Akibat Ini
Tak peduli berjarak sekitar 15 km dari kantor Kecamatan Wlingi, dengan medan jalan yang sulit dilalui mobil, namun Senin siang kemarin itu mereka langsung mengecek ke lokasi, Senin (16/12) kemarin.
Untuk sampai ke lokasi proyek, mereka harus pindah kendaraan pikap, karena jalannya sulit juga masih makadam.
Apalagi, lokasi proyek itu jauh dari perkampungan setempat. Namun demikian, di bawah proyek plengsengan itu, ada empat rumah.
Di antaranya, rumah korban, nenek Tumila, kakek Katija (61), kakek Mujiarto (65), dan nenek Giyem (65).
Tiba di lokasi, mereka mencari nenek Tumila, yang hidup sendirian. Rumahnya di bawah jalan atau di bawah proyek plengsengan. Proyek itu dipakai buat menahan tanah jalan dusun agar tak longsor ke empat rumah warga tersebut.
"Tujuan dibangunnya plengsengan itu memang bagus karena buat menahan longsor. Eh nggak tahunya, malah proyeknya yang ambrol dan mengenai rumah korban," papar Eka, Camat Wlingi.
Untungnya saat kejadian itu, tak menimpa kamar korban dan hanya teras rumahnya, sehingga korban selamat. Namun demikian, rumah korban terutama bagian terasnya, penuh lumpur bercampur material plengsengan yang ambrol tersebut. "Yang penting, nenek itu selamat dan tak sampai ada korban luka," papar Eka.
Di lokasi itu, Eka menanyai Mariono, Kaur Desa Balerejo, yang juga ketua kelompok masyarakat (Pokmas). Sebab, dia yang mengerjakan proyek plengsengan senilai Rp 200 juta dengan panjang 20 meter dan tinggi 10 meter Itu.
"Ini baru selesai bulan ini dan belum kami serahkan pak. Nggak tahunya kok malah kena musibah seperti ini pak," ujar Mariono.
Nenek Tumila, menuturkan, ambrolnya plengsengan sepanjang 8 meter itu terjadi sewaktu dirinya tidur karena kejadiannya sekitar pukul 02.00 WIB atau bukan bersamaan hujan. Sebab, hujannya terjadi pada Minggu (15/12) siang atau pukul 14.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Setelah itu, tak hujan lagi.
"Saya kaget, saya kira ada maling kok karena suaranya gluduk gluduk, sehingga kami nggak berani keluar kamar. Baru sekitar pukul 05.00 WIB, kami keluar namun pintu depan rumah tak bisa dibuka karena tertahan lumpur dan longsoran material," papar korban.
Terkait ambrolnya plengsengan yang merupakan proyek hibah dari Pemprov Jatim itu, Mariono, berjanji akan bertanggungjawab.
"Siang ini, kami akan membersihkan lumpur yang memenuhi teras rumah korban," paparnya, yang mengaku mendapat proyek itu setelah mengajukan ke PU Pemkab Blitar.