Catatan Tofan Mahdi Tentang Kota Surabaya : 'Bu Risma dan Tugas yang Segera Purna'
Bagi yang pernah tinggal di Surabaya atau cukup lama meninggalkan kota ini, setidaknya setelah satu dekade atau lebih, pasti kaget dengan wajah Suraba
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pekan lalu, selama dua hari, saya pulang ke Surabaya. Bagi yang pernah tinggal di Surabaya atau cukup lama meninggalkan kota ini, setidaknya setelah satu dekade atau lebih, pasti kaget dengan wajah Surabaya.
Menurut Tofan Mahdi, Praktisi Media, keberadaan Kota Surabaya, sudah sangat berubah dan tidak berlebihan jika secara kasat mata saya berani menyebut, saat ini Surabaya adalah kota terbaik di Indonesia. Atau lebih tepatnya ibukota provinsi terbaik di Indonesia.
"Karena alasan dinas, saya telah mengunjungi hampir semua ibukota provinsi di Indonesia (minus dua ibukota di Papua). Saya belum pernah sama sekali ke Papua. Semua kota-kota di Indonesia tipologi-nya sama. Bahkan banyak kota yang terkesan jalan sendiri tanpa tampak kehadiran pemerintah-nya," jelas Tofan Mahdi.
Ciri khas kota-kota di Indonesia kata Tofan Mahdi adalah kondisi lalu lintas yang semrawut dan pengendara kendaraan bermotor yang tidak tertib. Tidak ada akses bagi pejalan kaki yang memadai (trotoar), beberapa sudut kota ada yang kumuh dan tidak tertata, pasar tumpah, hingga berbagai persoalan sosial lain.
Sampai hal-hal kecil lain juga saya amati seperti kondisi rambu dan lampu lalu lintas, marka jalan, sampai masih adakah sampah berserakan di jalan.
Namun saya tidak mengukur bagaimana pelayanan publik di kota tersebut, sudah baik, transparan, manusiawi, dan atau masih biasa-biasa saja.
Kalau diminta menyebut kota-kota besar manakah yang juga baik menyusul Surabaya, saya akan sebut: Balikpapan (bukan ibukota tapi tertib dan bersih), Jogjakarta, (mungkin) Semarang, dan surprisingly saya akan menyebut kota Ambon.
Di luar kota-kota besar tadi, banyak kota-kota kecil di Indonesia yang juga bagus dan nyaman seperti Ngawi, Purwokerto, Magelang, Wonosobo, Tanjung Pandan (Belitung), Bukitinggi (Sumbar), dan masih banyak lagi. Kota-kota besar umumnya menghadapi tantangan ledakan jumlah penduduk sehingga perlu kerja keras yang ekstra untuk menata kotanya.
Sekali lagi, semua penilaian di atas adalah pandangan subjektif saya.
• Pendaftaran SNMPTN 2020 Ditutup Besok, Segera Lakukan Finalisasi, Data KIP Kuliah Dapat Disusulkan
• 2 Pencuri Motor dan Satu Penadah Ditangkap Polres Sampang, Barang Curian Dijual Seharga Rp 1,8 Juta
• Jambret Modus Serempet Motor Curi HP, Dilaporkan Korban, Pelaku Sembunyi di Area Pemakaman Sampang
Semata-mata dari apa yang saya lihat dan rasakan. Saya tidak menganilisis APBD kota tersebut, PDRB-nya berapa, PDRB per kapita, tingkat UMK, pun tanpa mengukur tingkat kebahagiaan warganya.
Seperti halnya saat saya menulis tentang kota-kota di luar negeri yang pernah saya kunjungi, saya hanya menulis dari apa yang saya lihat dan alami saja. Jika misalnya seperti di Amsterdam atau Singapore kotanya bagus dan indah tetapi warganya tidak bahagia karena biaya hidup yang mahal, itu hal lain yang tidak masuk dalam koteks yang saya tulis.
Pun tentang Surabaya ini, semata-mata dari apa yang saya lihat saat ini dan yang pernah saya lihat dan rasakan satu dekade lalu saat selama lebih 12 tahun tinggal di kota ini.
Surabaya di Tangan Bu Risma
Siapakah sosok di balik perubahan wajah kota Surabaya? Semua sepakat hanya ada satu nama: Tri Rismaharini atau arek Suroboyo biasa memanggil Bu Risma.
Tangan dingin Bu Risma mulai kelihatan saat dia masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya zaman walikota Bambang DH. Pelan tapi pasti, wajah Kota Surabaya berubah dari sebuah kota yang gersang, panas, kotor, dan banyak wilayah yang kumuh menjadi kota yang berangsur bersih dengan mulai banyak pohon ditanam di sudut-sudut kota.