Mulai Esok, Retribusi Pedagang di Pasar Besar Batu Digratiskan

Pemerintah Kota Batu memberlakukan kebijakan tidak menarik retribusi bagi pedagang Pasar Besar dan Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) di Alun-Alun Kota B

TRIBUNJATIM.COM/BENNI INDO
Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso bersama Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama, Sekda Zadim Effisiensi dan Kabag Humas Pemkot Batu Santi Restuningsasi saat memberikan keterangan pers terkait sikap Pemkot Batu mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Balaikota Among Tani, Senin (16/3/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, BATU – Pemerintah Kota Batu memberlakukan kebijakan tidak menarik retribusi bagi pedagang Pasar Besar dan Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) di Alun-Alun Kota Batu.

Kebijakan itu mulai berlaku pada 30 Maret 2020 hingga 29 Mei 2020. Kebijakan ini diterapkan merespon dampak status bencana nasional non alam Covid-19.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso menerangkan, kebijakan itu diharapkan bisa meringankan beban masyarakat, terutama yang berada di pasar dan bekerja sebagai PKL. Punjul menyadari, dampak akibat Covid-19 ini menurunnya jumlah pembeli di pasar. Apalagi Alun-alun Batu juga ditutup sehingga tidak ada keramaian di sana.

"Akibat Covid-19 Pemkot Batu tidak akan menarik retribusi kepada pedagang pasar sampai kondisi kembali normal. Begitu juga bagi PKL di Alun-Alun Kota Batu kami minta untuk tidak berjualan sementara waktu," ujar Punjul Santoso, Minggu (29/3/2020).

Aturan yang diberlakukan tersebut, diungkap Punjul untuk kebaikan bersama. Dengan tujuan, agar pandemi Covid-19 bisa segera dilalui dan semua kegiatan bisa kembali normal.

"Selain itu, Pemkot melalui Bagian Umum juga melakukan pengadaan 100 box masker bagi tiap OPD dan tenaga medis di Pemkot Batu. Tujuannya untuk agar saat ASN memberikan pelayanan kepada masyarakat telah memenuhi SOP," beber pria yang juga menjabat sebagai Ketua PMI Kota Batu itu.

Jafar, seorang pedagang di Pasar Besar mengakui kalau jumlah pembeli menurun. Menurunnya jumlah pembeli itu mulai terasa ketika ada kebijakan penutupan tempat wisata dan libur sekolah.

Santri Ponpes Bahrul Ulum Jombang Pulang ke Kota Malang, Wajib Masuk Bilik Semprot Disinfektan

Pastikan Tidak Lockdown di Madura, Pintu Masuk Jembatan Suramadu Bakal Pasang Disinfektan

Penyakit Lama Ashanty Kambuh Lagi di Tengah Pandemi Virus Corona, Belakang Telinganya Kini Memerah

"Libur sekolah dan penutupan tempat wisata sangat terasa bagi pedagang karena hotel dan tempat wisata sementara ini tidak beli bahan pokok atau mengurangi jumlah pembelian," ujarnya.

Omset yang diterima pun ikut turun. Jafar berharap, wabah ini bisa segera berakhir dan perekonomian di pasar kembali normal. Omset yang diterima Jafar biasanya bisa mencapai Rp 1 juta per hari, namun kini turun menjadi sekitar Rp 300 ribu saja.

"Ini karena hotel dan tempat usaha mengurangi pembelian atau tidak beli sama sekali," bebernya.

Namun dengan diberlakukannya penarikan retribusi bagi pedagang dirasa sangat membantu. Pasar Besar Kota Batu ada sekitar 3200 pedagang. Baik los maupun bedak dengan setiap pedagang per meternya harus membayar Rp. 200 setiap hari.

Hingga bulan Maret ini, retribusi pasar untuk pelataran telah terealisasi Rp 138 juta dari total Rp 785 juta, untuk retribusi pasar los terealisasi atau melebihi target Rp 34 juta dari total Rp 10 juta, dan retribusi pasar kios terealisasi Rp 141 juta dari target Rp 141 juta.

Sedangkan Ketua Pelaku Niaga Sipil (PNS) Alun-Alun Kota Batu, Puspita Herdysari menambahkan pihaknya telah mengikuti anjuran dari Pemkot Batu untuk tidak berjualan sementara waktu. Menurutnya apa yang dilakukan bersama PKL di Alun-Alun Kota Batu untuk kebaikan bersama.

"Kami sudah libur, ini demi kebaikan bersama. Alternatif lain untuk menjaga dapur tetap ngepul, teman-teman akan berjualan online," pungkasnya. (Benni Indo)

Penulis: Benni Indo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved