Semarak Ramadan 2020

Melatih Anak Berpuasa dengan Memberi Reward, Ini Kata Psikolog Unair Surabaya

Psikolog Anak Universitas Airlangga Surabaya Dr. Primatia Yogi Wulandari, M. Si., Psikolog mengatakan, memberikan reward ini bisa menambah anak semang

Penulis: Melia Luthfi Husnika | Editor: Yoni Iskandar
ISTIMEWA
Ilustrasi anak menjalankan ibadah puasa 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Melatih anak berpuasa sejak dini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memberikannya reward atau hadiah ketika anak bisa menunaikan puasa.

Psikolog Anak Universitas Airlangga Surabaya Dr. Primatia Yogi Wulandari, M. Si., Psikolog mengatakan, memberikan reward ini bisa menambah anak semangat untuk berpuasa.

"Pada anak di usia balita, reward ini dapat diberikan untuk melatihnya semangat berpuasa," kata Dr. Primatia Yogi Wulandari, M. Si., Psikolog pada TribunJatim.com.

Bentuk reward sendiri, kata Dr. Primatia Yogi Wulandari, M. Si., Psikolog, dapat disesuaikan dengan usia anak.

"Pada anak-anak balita, Semakin kecil anak, biasanya reward lebih bersifat materiil, seperti mainan, dsb. Semakin besar anak, reward dapat berupa pujian dan pelukan," kata perempuan ayng akrab disapa Mima tersebut kepada TribunJatim.com.

Ia menambahkan, reward dapat juga diwujudkan dalam poin-poin atau stiker yang dikumpulkan, lalu ditukarkan di malam lebaran sebagai "THR" mereka.

Aktivis Dongeng Surabaya Inge Ariani Safitri, Budayakan Kembali Mendongeng di Rumah

Cerita Perjuangan Petugas Medis Covid-19 Tracing ODP-OTG, Pernah Kena Marah, Tak Jarang Dicaci Maki

DAMPAK Nyata Pandemi Corona bagi Dunia: WHO Terpuruk, Makin Buruk Relasi China-AS, Diambang Perang?

"Reward ini penting untuk pembentukan perilaku. Tentu saja, seiring dengan usia anak, reward dapat mulai diminimalkan, karena anak juga semakin paham akan pentingnya ibadah puasa yang tidak hanya tergantung pada reward yang diperoleh," jelasnya kepada TribunJatim.com.

Secara harfiah, lanjut Mima, anak akan terlatih untuk menahan diri dari makan dan minum. Selain itu, penting juga untuk ikut ditanamkan pada anak mengapa umat Islam harus berpuasa.

"Dengan demikian, pengenalan agama Islam dapat dilakukan sejak dini. Di samping efek terhadap pemhaman tentang agamanya, anak akan terlatih berempati terhadap orang-orang yang memang kesulitan untuk makan dan minum dalam kehidupan sehari-harinya," katanya.

Ditanyai soal hambatan yang sering dihadapi dalam melatih anak berpuasa, Psikolog Anak Universitas Airlangga ini mengatakan, biasanya orangtua justru yang tidak tega untuk mengajarkan anaknya berpuasa.

"Padahal semakin dini anak belajar berpuasa, semakin baik membentuk kebiasaan ini. Untuk itu, diharapkan orangtua bisa lebih santai dan fleksibel mengajarkan anaknya," jelasnya.

Bila anak masih tampak kuat, ia memaparkan, orangtua justru memotivasinya untuk melanjutkan berpuasa.

Bila tidak, tentu saja orangtua dapat mengajaknya untuk makan dan minum secukupnya, untuk kemudian melanjutkan berpuasa.

Hambatan yang kedua menurut Mima datang dari lingkungan. Bila ada teman atau saudara yang tidak berpuasa, maka anak akan kesulitan untuk menahan keinginannya untuk makan dan minum.

"Dalam situasi ini, sebaiknya sebisa mungkin anak menghindari interaksi dengan mereka yang tidak berpuasa," pungkasnya.(TRIBUNNEWSWIKI/Luthfi Husnika/Tribunjatim.com)

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved