Manajemen Arema FC Berharap Liga 1 Pakai Sistem ISC untuk Hak Komersial: Ada Ranking, Ada Rating

Disampaikan Manager tim Arema FC, Ruddy Widodo, pihaknya berharap agar sistem pembagian hak komersial sesuai besaran komersial dari rating TV.

SURYA/DYA AYU
General Manager Arema FC, Ruddy Widodo, Januari 2020. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Terkait hak komersial atau yang ngetren disebut subsidi yang diterima klub Liga 1, manajemen Arema FC menggantungkan harapan serta usulan pada PT Liga Indonesia Baru atau PT LIB selaku operator.

Disampaikan Manager tim Arema FC, Ruddy Widodo, pihaknya berharap agar sistem pembagian hak komersial yang diterima klub, sama dengan saat Liga 1 masih diberi nama Indonesia Soccer Championship (ISC), yakni besaran komersial tergantung dari rating TV.

Sehingga masing-masing klub mendapat jumlah hak komersial yang berbeda-beda, tergantung dari ranking di televisi serta mendapat tambahan dari prestasi, apabila klub menjadi juara.

Usulan ini tak lepas dari nama dan rating Arema FC yang masuk dalam jajaran klub dengan rating tinggi di Indonesia.

Apalagi bicara soal nama, Singo Edan memiliki nama besar dengan basis suporter yang juga besar.

Meski Hak Komersial Cair, Arema FC Masih Harus Putar Otak Cari Tambahan untuk Gaji Pemain & Official

Bisa Pengaruhi Program Tim, Manajer Persebaya Surabaya Desak PSSI segera Tentukan Nasib Liga 1 2020

Sehingga menurut Ruddy Widodo, operator Liga seharusnya membedakan pendapatan hak komersial klub-klub yang memiliki nama serta basis suporter besar, seperti Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan beberapa klub lainnya.

Kondisinya saat ini di bawah naungan PT LIB, semua klub mendapat hak komersial yang sama, yakni Rp 520 juta sebelum dipotong pajak.

"Sebenarnya problem utamanya itu sekarang ini industrinya, bagaimana menjual 18 klub ini laku mahal. Itu saja, simpel. Begitu laku duitnya dibagi ke-18 klub ini, meskipun step by step. Stepnya itu dulu. Hitungan bisnis maaf, dengan investasi Arema yang sekian, dengan kontrak pemain sekian, dengan basis suporter yang banyak, kok dana komersialnya sama dengan klub yang mungkin secara rating TV kecil," kata Ruddy Widodo, Kamis (28/5/2020).

Soal Kelanjutan Kompetisi Liga 1 2020, Dua Penggawa Persela Lamongan Pilih Ikuti Keputusan PSSI

Sebulan Lebih Libur, Bek Madura United Sudah Kangen Atmosfer Pertandingan dan Suasana Tim

Hasil Rapat PSSI dengan APSSI soal Kelanjutan Kompetisi, APPI Perjuangkan Gaji Pemain Sesuai Arahan

Ruddy Widodo berharap, ke depan ada perbedaan hak komersial antarklub.

Selain itu, manajemen Arema FC juga berharap Dirut PT LIB yang baru nantinya merupakan orang yang paham industri sepak bola, sehingga paham dengan keinginan klub.

"Mungkin ke depannya lagi berbeda, rating TV ada, prestasi ada. Sebenarnya waktu ISC itu sudah diterapkan dan itu bagus. Ada ranking ada rating. Itu bagus. Memang harusnya pembagiannya seperti itu. Makanya saat itu juaranya 2017 Bhayangkara FC, Bhayangkara secara rating TV kecil, tapi begitu dia juara hadiah uangnya lumayan juga. Persib, Arema yang gak juara waktu itu, ratingnya besar, ya duitnya lumayan juga. Ini fair. Karena ada rating TV sangat menolong di industri. Ini usulan kami ke LIB," jelasnya.

Seperti diketahui, sebelum PT LIB, saat ISC operator liga dipegang oleh PT Gelora Trisula Semesta (GTS), namun semenjak 2018 hak komersial atau subsidi semua klub Liga 1 disamakan.

Editor: Dwi Prastika

Penulis: Dya Ayu
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved