Breaking News:

Pilkada Trenggalek 2020

Bakal Calon Wabup Trenggalek Datangi Para Perajin Genting yang Mengeluh Dampak Covid-19

Anggota DPRD Kabupaten Trenggalek yang juga bakal calon wakil bupati (Bacabup) Trenggalek usungan PDI Perjuangan Syah M Natanegara mendatangi perajin

Surya/Aflahul Abidin
Anggota DPRD Kabupaten Trenggalek yang juga calon wakil bupati usungan PDI-P Syah M Natanegara ketika mengunjungi perajin genting di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Selasa (28/7/2020). 

 
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Anggota DPRD Kabupaten Trenggalek yang juga bakal calon wakil bupati (Bacawabup) Trenggalek usungan PDI Perjuangan Syah M Natanegara mendatangi perajin genting di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Selasa (28/7/2020).

Para perajin mengeluhkan dampak virus Corona atau Covid-19 yang signifikan terhadap industri yang mereka jalankan.

Mahmudi, salah satu perajin, mengaku Covid-19 berdampak pada harga jual genting yang menurun drastis.

Ketika harga tinggi, genting produksi industri di sana bisa laku Rp 2.000 per biji. Sejak sekitar lima bulan belakangan, nilainya turun drastis menjadi antara Rp 1.400 hingga Rp 1.500 per biji.

Harga jual rendah itu karena pesanan genting juga merosot tajam.

"Sebulan rata-rata bisa 8 ribu biji. Sekarang dua bulan cuma 10 ribu biji," kata Mahmudi kepada TribunJatim.com.

Genting buatan industri di Kamulan, Durenan dipasarkan secara konvensional. Perajin sekadar menunggu orang datang untuk memesan.

Motor Ini Diparkir di Depan Rumah Raib Dicuri Maling, si Pemilik Heran: Pakai Alarm Tapi Kok Diembat

Nikmati Sajian All You Can Eat dengan Konsep Untouched di Shangri-La Hotel Surabaya

Akhir Kasus Bullying Siswi Bekasi yang Dipaksa Cium Kaki Temannya, Pelaku & Korban Teman Sejak Kecil

Sementara cakupan pasarnya meliputi wilayah Trenggalek dan sekitarnya. Seperti Nganjuk, Kediri, hingga Malang.

Sementara Syah M Natanegara mengatakan, produk genting di Kamulan, Durenan punya potensi untuk berkembang lebih besar.
Sayangnya, menurut dia, manajemen pemasaran dan pengelolaannya belum maksimal.

Maklum, industri di sana masih terbilang konservatif. Industri berkembang dari model bisnis industri lama era nenek moyangnya.

"Sebenernya masalah ini persoalan klasik. Sistem pemasaran dan produksi yang sederhana. Sehingga pemasaran belum maksimal," ucap Syah.

Maka, ia akan mengusulkan adanya koperasi atau badan usaha milik desa (BUMDes) untuk mewadahi para perajin gerabah.
Namun untuk itu, pihaknya masih akan berdiskusi secara intens dengan para pengusaha genting yang ada di sana.

"Harapannya nanti sehingga penghasilan dan kesejahteraan perajin lebih meningkat," pungkasnya. (aflahulabidin/Tribunjatim.com)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved