Harga Kopi Jatuh, Petani Kopi di Kabupaten Jember Menjerit
Petani kopi di Kabupaten Jember mengeluhkan turunnya harga kopi di tingkat petani. Menurut Zainal Arifin, petani kopi Desa Pace Kecamatan Silo
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Petani kopi di Kabupaten Jember mengeluhkan turunnya harga kopi di tingkat petani. Menurut Zainal Arifin, petani kopi Desa Pace Kecamatan Silo, saat ini harga kopi bijian (green bean) Rp 21.500 per Kg.
"Sebelumnya itu antara Rp 25.000 - Rp 28.000 per Kg untuk green bean robusta. Pace dan sejumlah desa lain di Kecamatan Silo merupakan sentra produksi kopi jenis robusta," imbuh Zainal, Selasa (25/8/2020).
Harga kopi turun karena dua penyebab yakni saat ini memasuki panen raya, juga terjadinya pandemi Covid-19.
Zainal menuturkan, sudah jadi rahasia umum ketika masa panen raya, harga kopi turun. Hal ini, di antaranya, karena permainan harga pedagang besar kopi di Jember.
"Mereka yang menentukan harga, jadi terserah mereka, terutama ketika panen raya seperti sekarang" imbuh Zainal kepada TribunJatim.com.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gapoktan melakukan terobosan selama beberapa tahun terakhir. Gapoktan bekerjasama dengan perusahaan kopi dalam membeli kopi rakyat.
• Pria di Malang Nekat Kirim Ganja Lewat Ekspedisi, Aksinya Terbongkar Polisi, Lihat Endingnya
• Kisah Nenek Buta Huruf Dikelabui Pria, Sertifikat Dibalik Nama, Kini Berhasil Rebut Kembali Tanahnya
• 4 Desa di Tulungagung Kekurangan Air Bersih Imbas Kemarau, BPBD Mulai Suplai Air: Tertolong Hujan
Ketika panen raya, Gapoktan tetap berani membeli kopi rakyat dengan harga lebih tinggi daripada harga tengkulak atau pedagang besar.
"Namun tahun ini terkendala Covid. Kami di Gapoktan tidak punya dana untuk membeli kopi petani. Padahal tahun ini kami punya kontrak dengan perusahaan kopi untuk memasok kopi 1.500 ton. Kami bisa membeli Rp 25.000 per Kg kalau ada dana," tegasnya.
Karenanya Zainal meminta bantuan pemerintah terkait penjualan paska panen. Dia meminta juga Pemkab Jember turut memasarkan kopi Jember.
"Pemerintah saya minta mem-branding kopi Jember, terutama paska panennya. Sebab kopi Jember itu tidak kalah dengan kopi Dampit atau Bondowoso. Kalau ada jaminan harga paska panen juga petani lebih terjamin," tegasnya kepada TribunJatim.com.
Keluh kesah petani kopi itu telah disampaikan kepada Bupati Jember Faida. Faida mengatakan dirinya siap menjadi kepala marketing kopi Jember.
"Dan nantinya akan ada pendampingan untuk petani dari dosen yang bekerjasama dengan Pemkab Jember melalui program 'satu desa, satu dosen'," ujar Faida.
Sementara itu Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Prof Yuli Witono yang terlibat dalam program 'satu desa, satu dosen' mengatakan pihaknya siap mendampingi petani kopi di Desa Pace, Silo. Apalagi Unej sendiri juga memiliki program pendampingan bagi petani kopi di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo.
Yuli menegaskan pentingnya tata niaga kopi petani. Perbaikan tata niaga itu, lanjutnya, bisa dimulai dari soliditas petani.
"Sebagai produsen, petani punya otoritas menentukan hatga kopi. Soliditas petani kopi harus terbangun supaya tata niaga kopi bisa baik. Saya akui sinergitas dengan semua pihak sangat penting," tegas Yuli. (Sri Wahyunik/Tribunjatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-jember-petani-kopi-jember-menjemur-kopinya.jpg)