Penanganan Covid

Jaga Imun Saat Pandemi Covid-19, Ibu Hamil dan Bayi Harus Tetap Dapat Gizi Seimbang dan ASI

Di masa pandemi Covid-19 ibu hamil dan bayi harus tetap mendapat asupan gizi seimbang dan air susu ibu (ASI), karena pengaruhnya luar biasa.

Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM/istimewa
Nutrition Officer UNICEF Field Office Java, dr Karina Widowati MPH ketika menjelaskan asupan gizi yang berimbang dan beragam diperlukan untuk menjaga metabolisme daya tahan ibu sekaligus menjaga perkembangan optimalisasi bayi. 

“ASI adalah asupan paling murah, bergizi, dan paling mudah yang bisa diberikan kepada bayi hingga usia 6 bulan, dibandingkan dengan memberi asupan susu formula. Di ASI ada serat yang nantinya akan menjadi probiotik dan prebiotik yang berfungsi sebagai pembentuk kekebalan dalam tubuh,” terang Alpha Fardah.

Di masa pandemi saat ini, proses menyusui harus jalan terus.

“Proses menyusui harus tetap diberikan di masa pandemi covid, meski ibu dalam kondisi sakit. Tentunya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Menggunakan masker, face shield, cuci tangan pakai sabun. Jika tidak bisa menyusui secara langsung bisa dengan cara diperah,” kata Alpha Fardah.

“Di dalam ASI tidak ditemukan SARS Cov-2. Penelitian masih terus berlanjut dan tidak perlu khawatir, karena global recommend masih menyebutkan ASI tetap harus diberikan,” terangnya.

Dari sisi psikologis, situasi pandemi ini memang harus diperhatikan bagi ibu hamil. Pasalnya menurut Dosen Fakultas Psikologi Unair, Endang Retno Surjaningrum, S.Psi., M.APPPSYCH., PH.d, pandemi Covid-19 ini dapat menyebabkan kondisi tekanan psikologis yang berlebihan.

“Situasi ini menambah tinggi resiko kesehatan mental di masa kehamilan. Ini kerap tidak menjadi perhatian dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Pergantian suasana perasaan dan emosi, bagi beberapa masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang biasa atau bawaan bayi. Tidak semua ibu -ibu mampu mengenali bahwa itu sebenarnya adalah perubahan kondisi psikologis” terang Retno Surjaningrum.

Menurut Retno, kejadian depresi yang tinggi umumnya pada usia kehamilan di trimester ketiga. Depresi juga terjadi setelah kelahiran (3-6 hari selama 14 hari pertama) yang kerap disebut dengan baby blues.

“Sekitar 50-80 persen ibu-ibu kehamilan ini menunjukkan suasana baby blues. Ini yang harus diperhatikan,” tegas Retno.

Menurutnya, kondisi kesehatan mental secara umum akan berpengaruh kepada kesehatan fisik ibu sendiri. Secara langsung atau tidak langsung juga akan berpengaruh kepada kesehatan janin saat kehamilan dan suah melahirkan. (*)

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved