Polemik Tempat Wisata Dekat Sumber Mata Air di Sumberejo, Pemkot Batu Ingatkan Pentingnya Kerukunan

Terkait polemik tempat wisata yang dibangun dekat sumber mata air di Sumberejo, Pemkot Batu ingatkan warga pentingnya kerukunan.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM/BENNI INDO
Tempat wisata yang dibangun dekat sumber mata air di Desa Sumberejo, Kota Batu, 2020. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Keberadaan tempat wisata dekat sumber mata air di Desa Sumberejo, Kota Batu, memunculkan pro dan kontra.

Sejumlah warga Desa Sumberejo sempat ricuh dengan Gagas Ariyo Setyo, warga sekitar juga, yang didampingi aktivis Malang Corruption Watch (MCW) ketika menggelar konferensi pers di depan Balai Kota Among Tani, Selasa (17/11/2020).

Warga yang pro terhadap keberadaan tempat wisata tersebut memiliki alasan faktor ekonomi dan kesejahteraan terhadap hadirnya tempat wisata Sumber Jombok. Mereka beranggapan tempat wisata dapat mendorong perekonomian masyarakat sehingga terwujud kesejahteraan.

Sedangkan yang kontra, beralasan adanya pelanggaran regulasi dan dampak lingkungan dalam jangka panjang terhadap keberadaan tempat wisata di dekat sumber mata air.

Perwakilan warga, Sukendri yang juga menjabat sebagai Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Sumberejo menerangkan, bangunan tersebut memang belum memiliki izin. Saat ini, izin sedang diurus. Tidak adanya izin tersebut karena ketidaktahuan warga yang membangun tempat wisata.

“Kalau setahu saya belum ada izinnya karena kembali lagi bahwa kemarin itu yang membangun adalah warga, sehingga sebagian tidak paham tentang perizinan. Yang kami sayangkan kemarin itu, kenapa yang mengatasnamakan Aliansi Front Sumberejo tidak mau berkoordinasi dengan warga sekitar?” kata Sukendri, Selasa (17/11/2020).

Baca juga: Jaran Kepang dan Bantengan Kota Batu Dapat Sertifikat WBTB, Jadi Semangat Mempertahankan Kesenian

Pemerintah Desa Sumberejo juga telah mengeluarkan surat yang memerintahkan agar kegiatan di tempat wisata dihentikan sementara. Sebagian warga pun menghormati keputusan pemerintah desa itu sehingga tidak ada kegiatan di tempat wisata Sumber Jombok.

Sukendri mengatakan, tempat wisata berada di dekat sumber mata air, namun warga tidak merusaknya. Justru, keberadaan sumber mata air ini dirawat dengan cara dibangunkan tempat. Debit airnya pun tidak menyusut sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan hidup dan pertanian.

“Kalau untuk pembangunan, sekarang ini sudah hampir selesai. Sudah tidak ada aktivitas pembangunan di sana. Pembangunan dimulai sejak 2019 dan dihentikan sementara mulai 16 November 2020. Belum ada aktivitas perekonomian juga di sana. Luasnya sekitar 250 meter persegi,” tegas Sukendri.

Gagas menjelaskan, dirinya telah mengonfirmasi izin pendirian tempat wisata itu ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Katanya, tempat wisata itu belum memiliki izin. Di sisi lain, dirinya juga mengatakan kalau DLH sedang mengkaji temuan di lapangan sembari menunggu perizinan selesai.

Baca juga: Dewan Dorong Pemkot Ambil Langkah-langkah Strategis Upayakan Kota Batu Masuk Zona Kuning Covid-19

“Hasil rekomendasi mereka adalah penutupan sementara sambil menunggu perizinan selesai. Padahal menurut kajian kami, saya rasa tidak dimungkinkan untuk tahap perizinan,” katanya.

Anggota Divisi Advokasi Unit Monitoring Hukum dan Peradilan MCW, Raymond Tobing menyoroti adanya potensi kerusakan sumber mata air. Undang-undang mengamanatkan sumber mata air adalah milik negara yang digunakan untuk kepentingan umum, tidak untuk kepentingan pribadi.

“Apapun itu alasannya. Di sini kami menemukan ada beberapa aturan yang dilanggar,” katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved