Pengurus APSAI Dilantik, Pilar Perlindungan Anak di Tulungagung Bertambah

Pengurus Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kabupaten Tulungagung resmi dilantik.

Penulis: David Yohanes | Editor: Pipin Tri Anjani
SURYA/David Yohanes
Ketua APSAI Pusat, Luhur Budijarso Lulu melantik pengurus APSAI Tulungagung secara daring. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG -  Pengurus Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kabupaten Tulungagung resmi dilantik.

Pelantikan dilakukan oleh Ketua APSAI pusat, disaksikan perwakilan Kementerian PPPA secara daring di Pendopo Kabupaten Tulungagung, Rabu (16/12/2020).

Menurut Ketua APSAI Tulungagung, Abrori, lembaganya bersifat independen dan bisa menilai kriteria perusahaan yang layak anak.

“APSAI adalah wadah sinergi komitmen dan sumberdaya. Bagaimana kami bisa berperan dalam pemenuhan hak anak dan perlindungan anak,” terangnya.

APSAI Tulungagung diisi 57 perusahaan yang sudah bergabung, dengan 25 perwakilan perusahaan di antaranya jadi pengurus.

Baca juga: Hendak Edarkan Ribuan Pil Logo Y dan DMP di Bondowoso, Mahasiswa Asal Probolinggo DIbekuk Polisi

Baca juga: Pasien Positif Terus Bertambah, Bupati Madiun Minta Warganya Tak Bosan Lawan Covid-19

Mereka terdiri dari perusahaan BUMN, BUMD, perusahaan swasta hingga UMKM.  

APSAI akan mendorong anggotanya untuk memberikan Corporate Social Responbility (CSR) untuk pemenuhan hak anak, dan perlindungan anak.

“Kami juga akan mendorong policy (kebijakan), program, dan produk yang ramah anak.  Kami berharap ke depan tidak ada lagi kerawanan anak,” sambung Abrori.

Direktur Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung, Winny Isnaeni memuji keberadaan APSAI Tulungagung.

Menurutnya, APSAI menjadikan pilar perlindungan anak di Tulungagung semakin kuat.

Sebelumnya di dalam sudah ada komitmen pemerintah yang kuat, forum anak, media serta para pegiat pelindungan anak.

“Kini ada para pengusaha yang ikut dalam pilar perlindungan anak. Ke depan kita bisa saling bersinergi, saling melengkapi tapi tidak jalan sendiri-sendiri,” ujar Winny.

Lebih jauh Winny mengungkapkan, sumber permasalahan anak adalah pengasuhan.

Setiap kali ada anak berharapan hukum (ABH) maupun korban, dipastikan ada masalah pengaruhan di belakangnya.

Baca juga: BREAKING NEWS - Kurir Sabu di Surabaya Ditembak Mati Polisi, Sempat Lawan Pakai Senjata Api Rakitan

Baca juga: Kronologi Kurir Sabu di Surabaya Ditembak Mati, Polisi Sempat Kehilangan Jejak Saat Penangkapan

Kondisi ini diperparah adanya keluarga yang tidak bisa mengakses layanan dukungan pengasuhan.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved